Translate

14/02/15

Kendalikan Cinta mu

Inilah langkah pertama yang sangat penting dan menentukan. 

Meskipun kamu sangat menyukai dan ingin memilikinya, kamu harus selalu mengingatkan dirimu bahwa dia bukan segala-galanya. 

Semakin baik kamu mengendalikan perasaan cinta-mu, maka akan semakin siap kamu untuk memburunya.  Sebaliknya, kalau kamu merasa sangat membutuhkannya dan seakan-akan tidak bisa hidup tanpa dia, kamu berada dalam kondisi yang kurang prima untuk merebut hatinya.

Mengapa? 


Sebab dia tidak tertarik pada kebutuhanmu akan cintanya.  Dia lebih terpikat pada pribadi yang bisa memberinya kebahagiaan cinta.
Jika kamu ingin dicintai...cintailah dia.!

28/01/15

Bila Aku Jatuh Cinta

Yaa…Alloh… aku minta izin
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang
Hingga membuat lalai akan adanya Engkau

Yaa…Alloh…Aku punya pinta
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas
Biar rasaku pada-Mu tetap utuh

Ya…Alloh...
Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta
Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan kasih-Mu
dan membuatku semakin mengagumi-Mu

Yaa...Alloh...
Bila suatu saat aku jatuh hati
Pertemukanlah kami
Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu

Ya...Alloh...
Pintaku terakhir adalah seandainya kujatuh hati
Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku
Anugrahkanlah aku cinta-Mu...
Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu

12/01/15

Laki-laki (Suami) yang Baik

Share dari Pengajian Pemantapan Cak Emir.....

Suami yang baik itu adalah:

1. Mencintai istrinya dengan cinta dari Alloh (Cintanya karena Alloh)
    Kalau istrinnya salah..mau mengingatkan/menasehati

2. Menerima istrinya apa adanya

3. Memberi makan istrinya, dengan apa yang dia makan

4. Memberi pakaian istrinya, apa yg dia pakai (maksudnya, pakaian perempuan lho ya)

5. Bisa memberi nasehat pada istrinya dengan cara baik

6. Bisa menghargai usaha baik istrinya

7. Selalu mendoakan istrinya supaya bisa menjaga dan mendidik anak-anaknya

8. Bisa meng-gauli istrinya dengan baik

9. Bisa Husnuzdon bila melihat sesuatu yang tidak disukai dari istrinya

Karena ada Dalil berikut:
Allah berfirman, “Dan gaulilah mereka istri dengan baik. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS An-Nisaa : 19)

10. Bisa memaafkan kekurangan istri

Hai para Suami....Sudahkah Anda seperti itu..?


25/12/14

Kehidupan Berumah Tangga..

Terus terang, tulisan ini terinspirasi berat sebuah lagu Vierra yang berjudul Bersamamu. Pertama kali mendengar liriknya, terbayang – bayang kebiasaan  yang sering saya lakukan kepada istri; memandangi wajahnya. Maka, tak pelak saya sering memutar ulangnya. Dan begitulah nyatanya, ada perasaan senang campur bangga ketika melakukannya. Apalagi ketika mendapati wajah istri berseri. Simaklah liriknya;

Memandang wajahmu ceria,
Membuatku tersenyum senang,
Indah dunia.

Tentu saja kita pernah,
Mengalami perbedaan,
Kita lalui.

Dalam perjalanannya sebuah rumah tangga tak terlepas dari perbedaan dan perselisihan. Seiring berjalannya waktu dan kedewasaan - antara suami dan istri, kadang perbedaan dan perselisihan itu bisa dilewati dengan baik. Dan itu akan tampak dalam wajah keseharian yang berseri – seri. Bercahaya. Enak dipandang. Dan aura menyejukkan. Kuncinya, saling pengertian dan selalu mengontrol diri agar tidak serabutan dalam bersikap dan bertindak. Coba cermati kembali Sabda Nabi SAW berikut ini.

Dari Abu Huroiroh ra. ia berkata, “Dikatakan kepada Rasulullah SAW manakah perempuan yang baik?” Beliau menjawab,”Yaitu perempuan yang menyenangkan pada suami ketika dipandang, dan mentaatinya ketika diperintah dan tidak menyelisihi di dalam diri dan hartanya dengan apa – apa yang dibenci oleh suami.” (Rowahu an-Nasaa’i Kitabun Nikah)

Banyak orang yang memahami dalil ini dengan sikap yang kurang proaktif. Lebih banyak menunjuk hidung pihak lain daripada mengoreksi diri sendiri. Banyakan menuntut. Banyak orang yang masih beranggapan bahwa hadits ini ditujukan khusus buat para isteri.  Sebab obyek yang dibicarakan memang jelas, yaitu kriteria perempuan yang baik. Adalah kewajiban istri agar selalu enak dipandang suami. Berdandan, bersolek, macak untuk sang suami. Itu adalah kewajibannya, tanpa mau tahu bagaimana membuat istri bisa enak dipandang dan bagaimana cara memandangnya. Bagaimana mau berdandan kalau tidak ada perlengkapan buat berdandan. Bagaimana istri mau enak dipandang, jika sudah berdandan mau kerja, eh sang suami minta dilayani. Walaupun istri mau melayani tapi suasananya pasti tidak sedap dipandang. Sebab istri merasa terpaksa, entar dosa, nggak taat suami dan beban terlambat, buru – buru, macet serta kena marah atasan.

Disinilah letak proaktif yang sejatinya merupakan tugas para suami yang tak kalah besar dan menentukan itu. Dan itu semua tersirat dalam redaksional di atas. Apalagi jika dikaitkan dengan tanggung jawab dan kepemimpinan seorang suami. Jadi, jangan serta - merta menyalahkan istri, ketika sang suami menjumpai istrinya berwajah muram, tak enak dipandang. Barangkali, sebab itu semua adalah kelakuan kita - para suami - yang telah membuatnya durja. Pulang terlambat nggak memberitahukan.  Ada acara mendadak tak kirim kabar. Atau punya agenda lain tersembunyi, padahal sudah ada janji dengan istri. Dan masih banyak contoh kecil yang lain. Atau – tanpa sengaja – melukainya bahkan mungkin sampai menganiayanya. Tapi kita sering tak merasa.  Dalil itu sering menutupinya sehingga tuntutan didahulukan sebelum tuntunan diberikan. Padahal Rasulullah SAW memberikan teladan, Dari Aswad ia berkata, ‘Aku bertanya kepada Aisyah ra., “Bagaimana Nabi berbuat - bertindak – tanduk di dalam rumahnya?’ Aisyah ra. menjawab, “Beliau ada dalam kerepotan keluarganya, maksud Aisyah yaitu, melayani keluarganya, maka ketika datang waktu sholat Beliau keluar untuk sholat.” (Rowahu al-Bukhori K. an-Nafaqoot)

Kembali pada syair di atas, kata – kata itu mengingatkan untuk bersyukur kala menghadapi situasi yang menyenangkan. Mendapati wajah isteri ceria adalah anugrah. Menenteramkan hati. Adalah sebuah rejeki mendapati wajah isteri berbinar. Laksana rembulan sejuk bersinar. Dan selanjutnya pun jadi tahu, jika melihat wajah isteri tidak berpadu – padan dengan keceriaan, biasanya ada yang tidak beres dengannya. Disitulah letak kebahagiaan selanjutnya. Memandang wajah isteri adalah cermin situasi yang tengah melanda rumah tangga yang sebenarnya. Seraya membuka komunikasi untuk segera menyelesaikannya. Maka seolah nyambung, lagu itu diakhiri dengan referen;
…………………
Ku kan setia menjagamu, bersama dirimu…dirimu,
Sampai nanti akan slalu bersama dirimu…,


Ya, begitulah seharusnya kehidupan berumah tangga. Ada perbedaan. Ada perselisihan. Ada riak dan dinamika kehidupan yang harus dimainkan. Tak lain, semua itu adalah jalan menuju kebahagian itu sendiri.  Sebagaimana Allah firmankan dalam KitabNya, Dan gaulilah mereka istri dengan baik.” (QS An-Nisaa : 19). Pituah yang padat, penuh dan berisi. Tinggal kita memainkannya dalam kehidupan sehari – hari sesuai dengan situasi dan kondisi. Yang semua itu juga atas perkenanNya.(Ustad Fauzun)
Barokallohulakumaa buat Bimbi & Farrah

13/12/14

Saya ingin Nikah....Tapiii....

Saya ingin nikah pak.....tapi....

Begitulah diskusi saya dengan seorang bujangan...
Ia ingin berubah...dan berpikiran positif tetapi di dalam pikiran bawah sadarnya..masih ada pikiran negatif.

Untuk membuat perubahan seperti yang di inginkan, mulailah dari dalam. Sekuat apapun bantuan dari luar tidak akan efektif kecuali jika Anda menolong diri sendiri dengan kembali pada Alloh...ingat:

"Alloh tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga ia mengubah keadaan yg ada pada diri mrk sendiri" (QS Ra'du 11)

Ketika Anda mengubah persepsi, segala sesuatu pun ikut berubah. File di alam bawah sadar Anda akan berubah dan akan mengubah hidup seperti yang Anda inginkan.

12/12/14

Tidak Perlu Bingung Memilih Pasangan

Dalam memilih pasangan hidup, baik bagi laki-laki maupun perempuan keduanya memiliki hak untuk memilih yang paling tepat sebagai pasangannya. Hal itu dikenal dengan namanya 'kufu' ( layak dan serasi ), dan seorang wali nikah berhak memilihkan jodoh untuk putrinya seseorang yang sekufu.

Namun makna-makna yang lain seperti kecocokan, juga merupakan makna yang tidak bisa dinafikan, dengan demikian PROSES MEMILIH ITU TERJADI PADA PIHAK LAKI-LAKI MAUPUN PEREMPUAN.  Disisi lain bahwa memilih pasangan hidup dengan mempertimbangkan berbagai sisinya, asalkan pada pertimbangan-pertimbangan yang wajar serta Islami, merupakan keniscayaan hidup dan representasi kebebasan dari Allah yang Dia karuniakan kepada setiap manusia, termasuk dalam memilih calon suami atau calon istri. Aisyah Ra berkata, "Pernikahan hakikatnya adalah penghambaan, maka hendaknya dia melihat dimanakah kehormatannya akan diletakkan"


Dan untuk memantapkan pilihan, terutama dari berbagai alternatif sebaiknya melakukan shalat istikhoroh baik di tengah malam maupun di awalnya, dan lakukan secara berkali-kali. Jika telah dilakukan berkali-kali maka KEMANTAPAN YANG ADA ITULAH YANG INSYA ALLOH MERUPAKAN PETUNJUK-NYA, DAN ITULAH YANG LEBIH DIIKUTI. Tetapi perlu diingat, bahwa informasi yang dominan pada diri seseorang sering yang lebih berpengaruh terhadap istikhoroh, oleh karena itu perlu dilakukan berkali-kali. Dan untuk membedakan apakah itu keputusan yang dominan adalah selera semata atau dominasi istikhoroh agak sulit, kecuali dengan berkali-kali.

Salah satu tanda bahwa itu adalah petunjuk dari Allah adalah dimudahkannya urusan tersebut. 

05/12/14

Suami adalah Jembatan ke Sorga bagi Istri

Alloh berfirman:
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita),An Nisaa 34

Dia adalah pemimpin buat kaum wanita, yang harus ditaati dan dihormati

Suami adalah jembatan untuk masuk surga atau neraka bagi istri

11/11/14

Jodoh Kuasanya Alloh

Alloh maha Kuasa...


Alloh Berfirman: Inna kulla Syai in Kholaknaahu bi qodar.."
Sesungguhnya segala sesuatu menjadikan Aku dengan Qodar

"Sesungguhnya qodar itu telah ditulis 50.000 tahun sebelum kejadian"

Sama seperti cerita nyata dibawah ini...Qodar nya wanita (maaf, tanpa lengan) ini berjodoh...diceritakan dengan menarik oleh mas Saptuari ...


31/10/14

Saling Memaafkan

Rasulullah SAW bersabda, Apabila seorang lelaki mengajak istrinya ke tempat tidurnya (untuk berhubungan) lalu ia tidak mendatanginya, kemudian suaminya marah kepadanya, niscaya ia dilaknat oleh para malaikat hingga waktu pagi.” (Rowahu al-Bukhory)

Rasulullah SAW bersabda, “Demi Dzat yang diriku ada di TanganNya, tidaklah seorang lelaki memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu ia menolak, melainkan yang ada di langit murka terhadapnya hingga suaminya rela kepadanya.”


Bagaimana kalau ditolak tapi tidak marah?

pola komunikasi yang baik antara suami dan istri, sebagai praktik wa ‘aasyiruuhunna bilma’ruf.


 Saling memaafkan

Jika sudah ada komunikasi sebelumnya, layaknya sebuah komitmen, tentu akan ringan bagi keduanya. Istri tidak merasa berdosa dan suami tidak naik darah. Dalil yang seram pun menjadi begitu indah kala tahu hak dan kewajibannya
.

29/10/14

Falsafah Pernikahan

Teman saya yang belum menikah pernah berkata, "Saya takut menikah karena belum tentu sanggup menjadi suami yang baik".

Trus ada lagi teman saya yang lain, yang sudah nikah mengatakan, "Menikah itu enaknya cuma 10 persen, yang 90 persen uweeenak bangettt..."
Hmmmm...

Kedua pendapat diatas sama benarnya, sebab masing-masing punya sudut pandang berbeda.

Bagi yang sudah pada nikah kebanyakan berpendapat bahwa menikah itu indah... menyenangkan... dan menenteramkan jiwa.

Lalu,bagi yang belum nikah, mereka kerap dihantui kekhawatiran bahwa menikah itu sesuatu yang menakutkan, berat, penuh tantangan dan butuh biaya besar.

Mereka yang berpendapat seperti itu ya jangan disalahkan, karena mereka sendiri belum menjalaninya...iya to...

Terlepas dari perbedaan diatas, pernikahan memang suatu hal yang harus DISEGERAKAN.
Bahkan Rasulullah SAW dengan tegas mengultimatum agar laki-laki yang udah sanggup menikah untuk segera melaksanakannya (hadits riwayat Ahmad).

Pernikahan bukan hanya bertujuan untuk menghindarkan diri dari kancah maksiat, tetapi juga sebagai sarana dakwah sosial atau amar ma’ruf.

Ketika menikahi seorang wanita - untuk yang pertama kali, kedua, ketiga, atau keempat - seorang laki-laki telah memutar roda dakwah dengan mengeluarkannya dari image buruk.

Pernikahan insya Allah akan dapat diwujudkan jika dalam diri seseorang mengemuka empat faktor yang disebut-sebut sebagai "Falsafah Pernikahan". Keempat hal itu meliputi : niat, tekat, nekat dan dokat (bahasa prokem = duit).

Pertama, NIAT. Niat merupakan kuncinya ibadah. Baik buruknya hasil suatu pekerjaan sangat tergantung pada niatnya, demikian dikatakan Rasulullah SAW dalam hadits riwayat Nasa’i.

Niatlah yang awalnya menggerakkan kita untuk mengerjakan sesuatu. Niat yang disertai dengan komitmen dan tanggung jawab.

Sesiap apapun tapi belum berani berkomitmen dan bertanggung jawab, niat untuk menikah akan kembali mentah seperti semula.

Takut berkomitmen dan punya tanggung jawab membuat sebagian orang enggan menikah pada saat yang sudah seharusnya.

Karena itu, pernikahan hendaknya didahului oleh niat semata-mata mengharap ridho Allah untuk membentuk rumah tangga idaman, harmonis dan romantis, sakinah mawaddah wa rahmah.

Dengan niat yang ikhlas (tidak hanya mengedepankan dorongan nafsu), insya Allah pernikahan akan membawa rahmat yang menyuguhkan ketenteraman tiada tara.

Kedua,TEKAT. Niat saja belum cukup bila tidak dibarengi dengan tekat. Tekat merupakan kesungguh-sungguhan untuk melaksanakan niat dimaksud.

Tekat mendorong seseorang untuk mencapai kehendak hatinya, meskipun dalam pelaksanaannya berhadapan dengan berbagai tantangan.

Kalau seseorang telah bertekat menikah, sebenarnya
tidak ada lagi alasan yang bisa menghalanginya.

Tetapi kenyataan yang selama ini terjadi, yang telah menjadi fenomena di kalangan bujangan adalah keragu-raguan, pikir yang terlalu panjang dan kecemasan prematur yang sengaja ditumbuhkembangkan.

Akibatnya tekat yang seharusnya menjadi motor malah kalah duluan.

Ketiga, NEKAT. Supaya tekat dapat diwujudkan menjadi sesuatu yang nyata, maka perlu kenekatan.

Islam insya Allah tidak akan menyebar jika tidak ada kenekatan Rasulullah SAW dan pengikut-pengikutnya untuk mendakwahkannya di tengah-tengah kaum kafir Qurais jahiliyah.

Republik ini pun insya Allah tidak akan merdeka jika tidak ada kenekatan para pejuang melawan moncong senapan Belanda dengan bambu runcing.

Begitu pula, kita yang hidup hari ini pasti tidak akan ada jika saja ibu dan bapak kita dulu tidak nekat untuk menikah.

Itulah sekedar contoh. Ternyata nekat itu membawa pengaruh yang signifikan bagi perubahan.

Tentu saja dalam konteks ini adalah nekat yang masih dalam koridor syariat. Nekat yang penuh perhitungan. Bukan nekat-nekatan.

Karena itu, agaknya pernikahan akan terlaksana kalau calon pengantinnya (terutama yang laki-laki) memiliki kenekatan spiritualitas demi menjaga diri dari maksiat dan "menyelamatkan" saudara-saudara perempuan kita yang "menunggu".

Keempat, DOKAT (duit). Pernikahan lazimnya membutuhkan biaya. Untuk itu ketiga hal diatas perlu ditopang dengan yang keempat ini.

Setidaknya untuk mas kawin dan biaya pernikahannya. Terlalu naif rasanya bila biaya ini dihutang walaupun dihalalkan.

Nah, ketika bicara tentang uang ini, janganlah pikiran kita membayangkan bahwa pernikahan itu mahal. Butuh biaya besar.

Bahkan ada beberapa teman yang mengatakan, "Nikahnya sih gampang, ‘iuran’ bulanannya yang berat" atau "amma ba'du-nya itu lho...."

Ya ndak gitu laah... Ingat kisah sahabat Rasulullah yang bisa menikah hanya dengan mas kawin hafalan surat Al Ikhlas. Selain itu coba "nderes" kembali firman Allah dalam Al Qur’an :

"Dan tidak ada suatu makhluk pun di muka bumi melainkan Allah-lah yang memberikan rezekinya.." Surat Hud ayat 6.

"Dan menikahlah dengan orang-orang yang sendirian (bujang) diantara kalian, dan orang-orang yang sholih dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki, dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan mencukupi mereka dengan kefadholan Allah.." Surat Annur ayat 32.

Dan hadits Rasulullah :
"Ada tiga golongan yang pasti mendapatkan pertolongan Allah : pertama, orang yang membela agama agama Allah, kedua, orang yang menikah dengan niat menjaga agamanya, ketiga, budak mukatab yang ingin menebus dirinya agar merdeka dengan cara mengangsur" Hadits Riwayat Nasa’i juz 6

"Mencarilah rizqi dengan (melalui) pernikahan" Hadits Riwayat Dailami dalam musnad Firdaus.

Jelas sudah.. hayoo... siapa yang masih meragukan dalil-dalil diatas...

Beberapa ulama kita menjelaskan dengan doktrinnya "yang membagi rezeki itu Allah, tidak usah memikirkan
pekerjaan Allah itu, malah pusing sendiri... harus yakin dengan dalil"

Besar kecilnya biaya pernikahan itu tergantung bagaimana kita bisa menyiasatinya.

Artinya, pernikahan akan menjadi berat kalau dipandang sebagai beban dan akan menakutkan kalau dikaji-kaji rekapitulasi biayanya, apalagi bagi yang belum punya penghasilan tetap.

Jadi, persepsikanlah pernikahan sebagai ibadah yang menyenangkan.

Siapa yang masih ingat lirik lagu Doel Sumbang yang ngetop di era 90an :

Jangan berkata tidak bila kau jatuh cinta
Terus terang sajalah buat apa berdusta
Cinta itu anugerah maka berbahagialah
Sebab kita sengsara bila tak punya cinta

Rintangan pasti datang menghadang
Cobaan pasti datang menghujam
Namun yakinlah bahwa cinta itu kan membuatmu
Mengerti akan arti kehidupan

Marilah sayang.. Mari sirami
Cinta yang tumbuh di dalam diri
Marilah sayang.. Mari sirami
Agar merekah sepanjang hari

Sobat... ada pihak yang tidak setuju bahkan sangat menentang pernikahan dan menjunjung tinggi perzinahan...!
Menentang poligami dan melegalkan perselingkuhan...! MasyaAllah...!!!
Siapa lagi kalo bukan Iblis Laknatullah, musuh besar manusia...!

Pernikahan dapat mengguncang seluruh kerajaan Iblis dengan kekuatan lebih 25 skala richter...., sampai mereka berteriak "Celaka..!!! anak cucu Adam telah terjaga dua pertiga agamanya dari godaanku…!!!"

Pernikahan menjadi bencana besar bagi Iblis... Maka sudah semestinya jika Iblis berjuang mati-matian untuk menghalangi manusia agar tidak segera menikah, mengelabui pikiran manusia dengan bayangan-bayangan menakutkan, perhitungan-perhitungan yang "njlimet" sehingga manusia enggan untuk menikah.

Bulatkan tekat, BISMILLAH... saya akan menikah demi menjaga agama saya, Allah pasti menolong...
Sholat hajat dan istikharah, minta petunjuk kepada Allah agar menemukan jodoh yang barokah...

Memang jodoh itu kodar. Maka berdoalah dan berusaha…
Jangan hanya pasrah pada Lembaga Kodar... ehm...

Semoga Allah paring Barokah

Ustad Dave Arian Yusuf