Translate

Tampilkan postingan dengan label Ucapan selamat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ucapan selamat. Tampilkan semua postingan

10/06/15

Suami istri

Laki-laki yang sudah menikah disebut suami, perempuan sudah menikah disebut istri. 

Suami dan istri adalah dua makhluk yang tidak sama, tetapi satu dengan lainnya harus saling melengkapi. Kedua belah pihak harus saling mengerti dan memahami, bahwa mereka adalah makhluk unik yang berbeda dalam banyak sifat serta karakter.


Yang terpenting dalam menjalani kehidupan suami istri adalah berusaha saling

mengerti dan memahami sifat dan karakter masing-masing.  Maka ber-

komunikasilah dengan baik

Selamat Berbahagia buat Prima & Putri...
Barokallohulakumaa..

05/06/15

Keluarga Bahagia

Dalil kunci keharmonisan dalam berumah tangga., yaitu “Hunna libasun lakum wa antum libasun lahunn” – QS Al-Baqoroh 187. Artinya; “Mereka (para istri) adalah pakaian bagi kalian (para suami) dan kalian (para suami) adalah pakaian bagi mereka (para istri).”

Merujuk pada pola kalimat di atas adalah model kalimat majemuk - setara. Artinya hubungan antara suami isteri adalah hubungan kesetaraan - saling membutuhkan. Tidak bisa berdiri sendiri. Atau yang satu lebih rendah dari yang lain. Penyebutan pertama dengan kata hunna (para istri) ini hanya ingin menunjukkan kaitannya dengan Surat An-Nisaa ayat 34 bahwa lelaki adalah pemimpin bagi wanita. Dengan pemahaman demikian, maka tidak akan tumpang tindih dengan dalil-dalil yang lain.

Kemudian penggambaran pakaian adalah penggambaran yang paling gamblang dan sederhana. Dan kita mafhum bagaimana fungsi pakaian yang biasa dipakai manusia. Pakaian berguna untuk beribadah.


Pernikahan adalah untuk menyempurnakan agama. Syaitan berteriak gagal ketika seorang pria mengucapkan ijab kabulnya. Sebab sudah sempurna agamanya 2/3 atau separohnya.

Pakaian berguna untuk menutup aurot/rahasia. “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu, dan pakaian indah untuk perhiasan.“ [QS. al-A’raaf : 26] Jika isteri mempunyai suatu kekurangan, suami tidak menceriterakan kepada orang lain, begitu juga sebaliknya. Pakaian berguna untuk perhiasan.  Isteri harus selalu tampil membanggakan suami, suami juga harus tampil membanggakan isteri. Jangan terbalik, saat keluar rumah istri atau suami tampil menarik agar dilihat orang banyak.  Sedangkan giliran ada di rumah suami atau istri berpakaian seadanya, tidak menarik, awut-awutan, sehingga pasangannya tidak menaruh simpati sedikitpun padanya.  Suami-istri saling menjaga penampilan pada masing-masing pasangannya.

Pakaian berguna untuk sebuah identitas. Identitas diri kalau sudah bersuami dan beristri.  Identitas/kepribadian yang menggambarkan eksistensinya sekaligus membedakannya dari yang lain. Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur,an: “Yang demikian itu lebih mudah bagi mereka untuk dikenal …”. (Q.S. al-Ahzâb (33): 59). 

Pakaian berguna untuk pelindung, melindungi dari segala kemungkinan buruk.  Jika isteri sakit, suami segera mencari obat atau membawa ke dokter, begitu juga sebaliknya.  Seperti itu pula fungsi suami-istri yaitu saling melindungi dan menenteramkan, bukan menindas atau menciptakan ketakutan.  Selain fungsi dimaksud, pakaian juga perlu dirawat, dijaga, dicuci, diseterika dan diberi pengharum agar enak dan menyenangkan ketika dipakai, kapan saja.

Menariknya lagi, ayat ini diturunkan berkaitan dengan bab puasa. Artinya apa? Di luar kebutuhan dasar hidup yang lain, kebutuhan yang satu ini adalah kuncinya. Jangan pura-pura tidak butuh dan acuh tak acuh.  Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Dan ini menjadi dasar hubungan paling hakiki antara suami dan istri. 

Selamat Berpuasa
Selamat berbahagia buat Pandu & Uris.....Barokallohulakuma..

25/12/14

Kehidupan Berumah Tangga..

Terus terang, tulisan ini terinspirasi berat sebuah lagu Vierra yang berjudul Bersamamu. Pertama kali mendengar liriknya, terbayang – bayang kebiasaan  yang sering saya lakukan kepada istri; memandangi wajahnya. Maka, tak pelak saya sering memutar ulangnya. Dan begitulah nyatanya, ada perasaan senang campur bangga ketika melakukannya. Apalagi ketika mendapati wajah istri berseri. Simaklah liriknya;

Memandang wajahmu ceria,
Membuatku tersenyum senang,
Indah dunia.

Tentu saja kita pernah,
Mengalami perbedaan,
Kita lalui.

Dalam perjalanannya sebuah rumah tangga tak terlepas dari perbedaan dan perselisihan. Seiring berjalannya waktu dan kedewasaan - antara suami dan istri, kadang perbedaan dan perselisihan itu bisa dilewati dengan baik. Dan itu akan tampak dalam wajah keseharian yang berseri – seri. Bercahaya. Enak dipandang. Dan aura menyejukkan. Kuncinya, saling pengertian dan selalu mengontrol diri agar tidak serabutan dalam bersikap dan bertindak. Coba cermati kembali Sabda Nabi SAW berikut ini.

Dari Abu Huroiroh ra. ia berkata, “Dikatakan kepada Rasulullah SAW manakah perempuan yang baik?” Beliau menjawab,”Yaitu perempuan yang menyenangkan pada suami ketika dipandang, dan mentaatinya ketika diperintah dan tidak menyelisihi di dalam diri dan hartanya dengan apa – apa yang dibenci oleh suami.” (Rowahu an-Nasaa’i Kitabun Nikah)

Banyak orang yang memahami dalil ini dengan sikap yang kurang proaktif. Lebih banyak menunjuk hidung pihak lain daripada mengoreksi diri sendiri. Banyakan menuntut. Banyak orang yang masih beranggapan bahwa hadits ini ditujukan khusus buat para isteri.  Sebab obyek yang dibicarakan memang jelas, yaitu kriteria perempuan yang baik. Adalah kewajiban istri agar selalu enak dipandang suami. Berdandan, bersolek, macak untuk sang suami. Itu adalah kewajibannya, tanpa mau tahu bagaimana membuat istri bisa enak dipandang dan bagaimana cara memandangnya. Bagaimana mau berdandan kalau tidak ada perlengkapan buat berdandan. Bagaimana istri mau enak dipandang, jika sudah berdandan mau kerja, eh sang suami minta dilayani. Walaupun istri mau melayani tapi suasananya pasti tidak sedap dipandang. Sebab istri merasa terpaksa, entar dosa, nggak taat suami dan beban terlambat, buru – buru, macet serta kena marah atasan.

Disinilah letak proaktif yang sejatinya merupakan tugas para suami yang tak kalah besar dan menentukan itu. Dan itu semua tersirat dalam redaksional di atas. Apalagi jika dikaitkan dengan tanggung jawab dan kepemimpinan seorang suami. Jadi, jangan serta - merta menyalahkan istri, ketika sang suami menjumpai istrinya berwajah muram, tak enak dipandang. Barangkali, sebab itu semua adalah kelakuan kita - para suami - yang telah membuatnya durja. Pulang terlambat nggak memberitahukan.  Ada acara mendadak tak kirim kabar. Atau punya agenda lain tersembunyi, padahal sudah ada janji dengan istri. Dan masih banyak contoh kecil yang lain. Atau – tanpa sengaja – melukainya bahkan mungkin sampai menganiayanya. Tapi kita sering tak merasa.  Dalil itu sering menutupinya sehingga tuntutan didahulukan sebelum tuntunan diberikan. Padahal Rasulullah SAW memberikan teladan, Dari Aswad ia berkata, ‘Aku bertanya kepada Aisyah ra., “Bagaimana Nabi berbuat - bertindak – tanduk di dalam rumahnya?’ Aisyah ra. menjawab, “Beliau ada dalam kerepotan keluarganya, maksud Aisyah yaitu, melayani keluarganya, maka ketika datang waktu sholat Beliau keluar untuk sholat.” (Rowahu al-Bukhori K. an-Nafaqoot)

Kembali pada syair di atas, kata – kata itu mengingatkan untuk bersyukur kala menghadapi situasi yang menyenangkan. Mendapati wajah isteri ceria adalah anugrah. Menenteramkan hati. Adalah sebuah rejeki mendapati wajah isteri berbinar. Laksana rembulan sejuk bersinar. Dan selanjutnya pun jadi tahu, jika melihat wajah isteri tidak berpadu – padan dengan keceriaan, biasanya ada yang tidak beres dengannya. Disitulah letak kebahagiaan selanjutnya. Memandang wajah isteri adalah cermin situasi yang tengah melanda rumah tangga yang sebenarnya. Seraya membuka komunikasi untuk segera menyelesaikannya. Maka seolah nyambung, lagu itu diakhiri dengan referen;
…………………
Ku kan setia menjagamu, bersama dirimu…dirimu,
Sampai nanti akan slalu bersama dirimu…,


Ya, begitulah seharusnya kehidupan berumah tangga. Ada perbedaan. Ada perselisihan. Ada riak dan dinamika kehidupan yang harus dimainkan. Tak lain, semua itu adalah jalan menuju kebahagian itu sendiri.  Sebagaimana Allah firmankan dalam KitabNya, Dan gaulilah mereka istri dengan baik.” (QS An-Nisaa : 19). Pituah yang padat, penuh dan berisi. Tinggal kita memainkannya dalam kehidupan sehari – hari sesuai dengan situasi dan kondisi. Yang semua itu juga atas perkenanNya.(Ustad Fauzun)
Barokallohulakumaa buat Bimbi & Farrah

23/08/14

Bahagia Berkeluarga

Pahamilah ayat dibawah ini:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS ar-Ruum 21)

Ayat ini menyatakan bahwa tiap-tiap manusia itu ada jodohnya (azwaajan), maka agar tenang mereka (litaskunuu ilaihaa) Alloh manjadikan mereka ber kasih sayang (mawaddatan warohmah).  Inilah Anugrah dari Alloh bagi laki dan perempuan yang telah menikah sehingga timbul rasa simpati dalam pribadi mereka.

Dengan ayat tsb, timbul rasa cinta suami kepada istrinya dan sebaliknya. Sehingga mereka menyatu bisa merasakan nikmat oleh suami juga dirasakan oleh istri juga sebaliknya..

Rasa simpati dan cinta ini oleh karena ikatan perkawinan yang mempertemukan keduanya.  Ketika bertemu keduanya atau ber 'amal sholeh' keduanya membawa barokah.  

Bagi si perempuan/istri...ia merasakan telah menjadi bagian dari laki-laki/suami tersebut.  

Bagi si suami tsb juga sangat senang dan menambah cintanya, sehingga ia selalu berusaha memberi kemewahan dan membahagiakan istrinya.

Maka hilanglah hal-hal yg membedakan dan rintangan-rintangan diantara keduanya. Dan keadaan inilah maksud adanya janji pertolongan Allah

Barokallohulakuma buat Fany dan Tya..

01/08/14

Istri Yang Baik

Bagaimanakah istri yang baik itu?  

Yang terjaga dan tampil muda/mesra...
Yang menyenangkan ketika suami melihat pada istri...
taat jika diperintah...
tidak melanggar / mengkhianati dalam diri dan hartanya dalam apa-apa yang      dibenci suami...
menyenangkan-menyejukan hati suaminya..
bisa mujhid-muzhid...
nrimo ing pandum, dalam menjaga harta suaminya...
tampil baik dan menggairahkan pada suaminya...
terjaga (dalam farjinya)...
berpenampilan muda.

istri seperti itu yang jadi dambaan suami, di akhirat jadi Ratunya Surga.
sesungguhnya dunia ini hanya kesenangan semata, sebaik-baiknya kesenangan dunia adalah istri yang sholihat

Barokallohulakuma....
Selamat Berbahagia buat Agus dan tika

28/06/14

Selamat Berpuasa

“Selamat memasuki ‘BBM’ (Bulan Berkah dan Maghfiroh) 
dalam suasana ‘PREMIUM’ (Prei Makan dan Minum), 
perbanyaklah isi ‘SOLAR’ (Sholat Lail dengan Rajin) dan 
‘MINYAK TANAH’ (Memperbanyak Tadarus dan Amarah)
dan jangan lupa isi ‘PULSA’ (Puasa Lebih Sabar).. 

Ada cela dalam canda. Ada dusta dalam tawa. 
Jika tabiatku membuatmu luka, hanya maaf yang dapat kupinta.
Ikhlaskan maafmu tuk peluk kalbuku 
menyambut bulan suci Ramadlan.


Selamat Menunaikan Ibadah Puasa...”.