Translate

28/12/09

Kunci ke Sorga adalah Akhlakul Karimah Lahir Bathin


Semua aturan dalam QH adalah mengarahkan kita untuk akhlaqul karimah lahir-batin. Kita bersyukur karena dalam melaksanakan hal tersebut kita telah diberi oleh Alloh wadahnya. Selanjutnya dalam mengelola terserah kepada kita, sebab Alloh telah memberi basic-nya.

Coba anda simak dalam QS Ali Imron: 103 yang berbunyi:
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”

Dan sabda Rasuulullah SAW dalam al-Hadits Abu Dawud, yakni:
“Demi Dzat yang diriku dalam genggaman tangan-Nya, tidak dapat masuk surga sehingga orang itu beriman, dan tidak dikatakan sebagai orang yang beriman sehingga orang itu saling mengasihi.”

Semula kita—manusia ini—berada di surga dan karena ‘keadilan’ Alloh—melalui pelanggaran Nabi Adam—maka kita dikeluarkan dari surga.

Ingatlah firman Alloh dalam QS Al-Baqoroh:38,
“Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan”.

Untuk dapat memasuki surga lagi, manusia dilatih dan dididik di ‘lembaga pemasyarakatan’ dunia. Seperti kita ketahui bersama bahwa: “Dunia adalah penjara bagi orang iman dan surganya orang kufur”. (HR Muslim) Untuk dapat
memasuki surga maka kita harus menjadi ‘napi’ yang baik di LP dunia dengan
ucapan, tingkah laku, dan hati kita yang baik. Baik dengan fi’liyah dan qolbiyah.

Kita juga terkadang lupa bahwa ibadah itu merupakan kewajiban kita an sich, padahal Alloh ingin mengetahui tingkat dan derajat amal manusia dan jin sesuai dengan kadar cobaan yang Alloh berikan.
Seperti yang Alloh firmankan dalam QS Al-Kahfi:7, yaitu,
“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka”.

Semua bentuk ‘peparing’ Alloh di muka bumi ini adalah sebagai batu
ujian dan tempat berlatih kita untuk kembali ke surga-Nya.

Alloh telah memerintah adam dan hawa untuk turun ke dunia dan boleh kembali ke surga. Maka kita harus perbaiki semua amal kita agar kembali ke surga dengan lancar. Termasuk dalam bagian ini adalah amalan dan perbuatan hati kita. Hati kita juga beramal, maka kita perbaiki hati kita juga.

Sebuah hadits menyebutkan: “…Maka kalian berhati-hatilah pada berangan-angan yang dapat menyesatkan ahlinya angan-angan tersebut…” (HR Bukhori Juz 9 Shohifah 62).

Contoh angan-angan yang dapat menyesatkan diri kita adalah memperistri.. istri orang lain, menjadikan suami... suaminya orang lain dll, yang itu semua dapat membahayakan dan menyesatkan diri kita.

Kita jangan ‘terjebak’ dengan pengertian sebuah hadits yang menyatakan kalau kita masih berangan-angan jelek di hati maka Alloh akan mengampuni dan tidak akan menyiksa. Sebab banyak hadits yang mendeskripsikan bagaimana hati yang tidak baik dan bersih, maka Alloh tidak akan menerima amal orang tersebut. Misalnya, kita sedang sholat, sebenarnyalah hati kita juga sedang menghadap dan bertemu kepada Alloh. Apabila gerakan jasad kita sholat, sedangkan hati kita mengumpat kepada Alloh, tentunya Alloh tidak akan menerima amalan kita. Hal yang berbeda dengan masalah duniawi, kita mungkin menghormat pada atasan kita, tapi hati kita sering menggerutu dan mengumpatnya. Selagi atasan kita tidak tahu apa yang di batin kita dan kita tidak pernah mengucapkannya maka setiap bulan kita mendapatkan gaji darinya..

Contoh lain, ada orang sholat dan dia perbaiki dan perindah bacaan serta gerakan sholatnya. Hal itu dilakukan bukan untuk Alloh tapi untuk orang lain, semisal karena ada sang calon mertua. Itu adalah syirik khofy yang derajatnya termasuk kategori syirik yang harus diwaspadai. Tentunya, para sahabat ingat cerita tentang tiga orang yang beramal TANPA didasari hati ‘Karena Alloh’, yakni pejuang, orang ‘alim dan orang yang dermawan. Mereka tidak mendapatkan pahala dan amalannya ditolak karena amalan hatinya tidak dihadapkan pada Alloh.

Ada lagi konsep husnudhon dan su’udhon. Kita dilarang su’udhon, karena itu adalah perbuatan dan amalan hati yang dapat menghancurkan amal kita yang lain. Hal inilah, mengapa kita harus memperbaiki amalan hati kita, karena hati juga beramal.
Dalam Hadits Bukhori, Nabi pernah bersabda: “Iman adalah ma’rifat di hati, dibenarkan oleh ucapan dan diamalkan badan”.

Oleh karena itulah, kita bersama supaya memperbaiki amal kita masing-masing, termasuk amalan hati kita. Mintalah bagian rejeki bukan hanya harta tapi mintalah dan berdoalah kepada Alloh supaya kita dilimpahkan akhlaq yang baik lahir batin. Misal kita mintakan bagian akhlaq untuk suami, istri, anak, keluarga dan orang tua
kita. Seperti yang tertuang dalam Hadits Ahmad, Rasululloh menegaskan bahwa: “Seseungguhnya Alloh itu membagi akhlaq diantara kalian sebagaimana Alloh memberikan bagian rezeki kepada kalian.”

Bagi orang tua jangan lupa memintakan bagian akhlaq untuk anaknya. Terkadang orang tua telah menyampaikan rangkaian ungkapan kemarahan dan emosinya, yang pada ujungnya selalu memberi aturan-aturan pada anaknya. Bagi anak jangan segan memaafkan orang tua sebab mereka tidak pernah ‘belajar’ untuk menjadi orang tua dan ketika menikah tidak mempunyai kriteria seperti mencari manager perusahaan yang harus berpengalaman dan pernah punya anak banyak.

Bagi suami jangan lupa untuk adil pada istri. Bagi istri supaya berbakti kepada suami.

Dalam masalah mendidik anak,
Kadang kita lupa membekali mereka untuk ‘bersikap’ terhadap dunia, kita hanya
mengajari dan mengarahkan mereka untuk ‘mencari’ dunia. Kita ajari mereka
bagaimana menjadi orang kaya, orang pintar dan orang sukses dalam masalah
dunia. Kita lupa mengajarkan pada mereka bagaimana ‘bersikap’ ketika anak-anak
kita menjadi orang miskin, orang kaya dan ber-akhlaqul karimah.

Pendidikan tersebut merupakan kewajiban orang tua yang hakiki dan itu harus dilakukan oleh orang tua sendiri. Mungkin ada tiga alternative kita mengurusi sendiri, mewakilkan atau menulis melalui surat, namun yakinlah bahwa itu manifestasi dari kewajiban dan amanah yang dipikul oleh orang tua terhadap anaknya.

Marilah kita tengok sejarah para nabi dan orang sholih jaman dulu. Mereka ‘ngawaki’ untuk memberi nasihat dan mengarahkan anak-anaknya untuk beribadah dan ber-akhlaqul karimah.

Misalnya, Nabi Ya’kub (Nabi Isroil,red) sebelum beliau meninggal, beliau mengarahkan anaknya untuk beribadah kepada Alloh. Walaupun hampir sepanjang hidupnya beliau menderita sampai matanya buta karena tingkah polah anak-anaknya—silahkan disimak cerita selengkapnya dalam QS Yusuf—namun menjelang akhir hayatnya, Ya’kub tetap mengarahkan anaknya untuk beribadah pada Alloh semata. Ingatlah firman Alloh dalam QS Al-Baqoroh:133 yang berbunyi: “Adakah kamu hadir ketika Ya’kub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.”

Penghampiran yang lain adalah Luqman. Secara gemilang, Alloh memberikan teladan kepada kita semua agar mencontoh terhadap Luqman bagaimana beliau men-drive anaknya dalam masalah beribadah dan ber-akhlaqul karimah. Marilah kita simak firman Alloh dalam QS Luqman:12-19,

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji". Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar".

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Lukman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya).. Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap
apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang
diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi
membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”
Maasya Alloh, sebuah teladan yang patut kita contoh dan kita jadikan pedoman.

Semua yang ada dan terjadi di dunia ini adalah ‘tempat latihan’ kita beramal di dunia ini.. Maka setiap apa pun yang terjadi pada kita maka kita syukuri sebab itu adalah ‘melatih’ kita memasuki surga.

Kalau kita mempunyai akhlaqul karimah maka tidak ada istilah ‘sayang’. Ada orang yang kaya tapi akhlaq-nya jelek maka orang serta merta mengatakan, “Memang orang itu kaya, sayang koq akhlaq-nya jelek!!”. Ada orang yang pandai tapi akhlaq-nya jelek maka orang serta merta mengatakan, “Memang orang itu pandai, sayang koq akhlaq-nya jelek!!”. Ada orang yang tampan/cantik tapi akhlaq-nya
jelek maka orang serta merta mengatakan, “Memang orang itu tampan/cantik,
sayang koq akhlaq-nya jelek!!”. Dan masih banyak contoh yang lain. Namun
kalau dia ber- akhlaqul karimah, walaupun tidak terlalu pandai dan tidak
terlalu tampan/cantik, bahkan dia orang miskin pun, orang lain tidak akan
mengatakan ‘sayang’ kepadanya. Bahkan orang akan memujinya karena keluhuran akhlaq-nya itu.

Nah, demikianlah para sahabat, kunci surga adalah terletak pada akhlaqul
karimah kita secara lahir dan batin. Marilah kita melatih diri kita masing-masing untuk ke arah tersebut.

Selamat mencoba.

15/12/09

Cinta Sejati (sebuah teladan Khadijah)


Sesungguhnya seorang perempuan berkata “Ya Rasulullah saya adalah tamu perempuanmu,” kemudian dia menyebutkan pahala bagi laki – laki di dalam urusan jihad dan jarahan kemudian dia berkata,’Kemudian apa bagi kami dari demikian itu?” Maka Rasulullah SAW bersabda, “Sampaikanlah kepada orang yang kautemui dari kaum wanita sesungguhnya taat kepada suami dan mengetahui/mengakui hak – hak suami membandingi dengan yang demikian itu, akan tetapi sedikit dari golongan kamu yang mengerjakannya. (Rowahu ath –Thobroni Fi az-Zawaajir)

Saya pernah mendengar perbincangan sekelompok orang, kalau mereka menggolongkan kaum wanita sebagai warga kelas dua. Saya juga masih suka mendengar dari kaum kartini ini, katanya perempuan itu masih dalam alam jajahan pria. Bahkan saya juga banyak mendengar, bincang – bincang, kalau kaum hawa itu dinomorduakan. Hak – haknya tidak sama dengan laki – laki. Entah apalagi, yang jelas keluh – kesah tentang tuntutan persamaan gender, katanya, emansipasi atau apalah…… sejenis itu. Bahkan yang membuat saya sedih, issue itu dijuruskan ke ranah religious. Islam, katanya, juga agama yang masih merendahkan kaum wanita. Apalagi dengan santernya poligami. Secara aklamasi, hal itu dijadikan sebuah ayat suci. Bukti utama, yang shahih untuk melegalkan opini mereka. Subhanallah.

Itu semua adalah suasana yang sentimentil. Penuh emosi. Tak berdalih.
Oleh karena itu, sebelum jauh melebar ke mana – mana, ada hal mendasar yang perlu diketahui bersama. Guna untuk menjawab gossip itu semua. Kalau perlu merubuhkan dogma itu. Nggak perlu ayat atau dalil yang muluk – muluk. Satu hal saja, yaitu bagaimana sih…. para wanita memandang diri mereka sendiri? Apakah mereka merasa direndahkan? Atau mereka merasa berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan kaum lelaki? Hal ini sangat penting, sebab sebanyak apapun dalil yang disampaikan, tentu percuma & tak berguna, selama mereka masih meyakini paradigma bahwa wanita itu warga kelas dua. Karena pada dasarnya memang masih banyak wanita yang memposisikan dirinya seperti itu, nomor dua, tertindas, terlindas dan dikebiri hak - haknya. Alih – alih ekspresi ketidakpuasan sesa’at. Dan itulah yang akhirnya diperolehnya.

Tidak dulu, tidak pula sekarang. Pola pikir dan perilaku seperti itu sudah bukan hal baru lagi. Sejak dulu kala sudah ada. Terbukti hadits di atas. Pertanyaan di dalam hadits yang disampaikan seorang perempuan ke Nabi SAW tak lain adalah – kalau dalam bahasa sekarang – tuntutan persamaan gender. Walau ditengarai juga sebagai bentuk fastabiqul khoirot. Namun, nuansa ke-jealousan-nya lebih menonjol. Dengan tegas Nabi SAW memberikan jawaban yang pas bahwa persamaan hak itu dilakukan dengan menjalankan kewajibannya sesuai dengan peran dan kondisinya masing – masing. Sesuai ‘dapukan’nya. Sak pol kemampuannya. Berdasar kodratnya. Itu sudah sama nilainya. Jadi, tidak harus mengerjakan hal serupa untuk memperoleh kedudukan dan pahala yang sama. Cukup dengan melaksanakan tugas masing – masing, itu sudah mencukupi. Sayangnya, manusia - kata orang jawa, itu sawang – sinawang. Orang perempuan ngelihat menjadi laki-laki itu lebih baik dan lebih enak. Laki – laki juga melihat kalau jadi perempuan itu lebih baik dan lebih senang. Seorang guru, melihat menjadi dokter itu enak. Demikian juga dengan dokter, melihat profesi guru itu kayaknya lebih enak. Begitu terus. Tanpa henti. Sampai orang itu menemukan kesadaran dan kemampuan bersyukur setiap saat, bahwa apa yang diberikan dan dipilihkan Allah itu adalah yang paling baik dan sempurna. Allahu akbar.

Demikian juga dalam bangunan Rumah Tangga. Pengertian dan pengakuan atas hak – hak dan kewajiban masing – masing adalah hal yang utama. Jangan berharap terjalin hubungan yang baik jika tidak dibarengi pengakuan dan pemahaman hak dan kewajiban masing – masing dengan baik. Suami mengakui hak istri. Istri mengetahui hak suami. Suami membantu istri. Istri membantu suami. Bahu – membahu.

Tatkala suami di rumah, suami menjadi pemimpinnya. Tatkala suami pergi, istri menjadi pimpinan rumah tangganya. Dan ketika suami pulang, istri menyerahkan kembali esensi kepemimpinan kepada yang berhak. Estafet yang indah. Mata rantai yang romantis. Komunikasi yang harmonis.

Maka, seorang istri jika bisa taat suami, menjadi jenderal yang baik di rumah suaminya, dan mengetahui hak – hak suami, maka itu membandingi pahala jihad. Nggak perlu mengangkat pedang. Nggak perlu jauh – jauh menempuh perjalanan. Toh hasilnya sepadan.

Kesadaran dan pemahaman seperti inilah yang perlu dimiliki setiap pasangan dalam menjalankan tugas dan kewajibannya masing – masing. Demi menemukan persamaan hak yang sebenarnya. Bukan persamaan peran.

Bagaimana kalau keadaannya terbalik?

Lihatlah Khadijah. Waktu itu Nabi yang berusia 25 tahun, menikah dengan Khadijah yang berusia 40 tahun. Seorang janda kaya. Dan dari Khadijah inilah Nabi mendapatkan 5 keturunan. Sampai akhirnya Khadijah wafat.

Cermatilah bagaimana Khadijah merelakan semua hartanya untuk berjuang suaminya. Bagaimana seluruh jiwa - raganya mendukung penuh niat luhur suaminya. Menghibur tatkala sedih. Melindungi tatkala terancam. Menyediakan perbekalan, tatkala diperlukan untuk dakwah. Semata – mata karena mengetahui akan hak dan kewajibannya. Istri lebih banyak kerja daripada suami. Atas dasar kasih dan sayang. Keluhuran budi. Semua kekurangan yang ada pada diri suami menjadi tak berarti lagi. Yang dilakukan Khadijah adalah apa yang bisa saya berikan kepada suami saya? Bukan tuntutan apa yang diberikan suami saya kepada saya. Dan apa yang didapatkan? Sebuah cinta sejati. Tulus dan murni. Cinta suci, yang tak lekang ditelan waktu. Sampai – sampai hal itu membuat cemburu istri – istri Nabi setelahnya. Sebab tak ada cinta dan kasih terindah sebagaimana diperani Khadijah. Padahal Khadijah sudah lama dan tidak ada lagi di dunia.

Pengakuan hak, bukan hanya sekedar tahu. Ia bukan hanya pengetahuan. Tapi lebih kepada penghayatan dan praktik nyata. Ketika sudah dihayati dan diamalkan, maka buahnya akan kita petik dan rasakan bersama. Dan ini bukan hal yang mudah sebab Nabi sudah mengingatkan – hanya sedikit yang mampu melakukannya!.

10/12/09

Memilih Pasangan


Disadari atau tidak, dasar sebagian besar orang berumah tangga adalah untuk menyempurnakan agamanya. Hal inilah yang perlu diwanti – wanti, dicermati terus guna membangun sebuah rumah tangga yang bahagia.

Rasulullah SAW bersabda, “Ketika seorang hamba menikah, maka sungguh ia telah menyempurnakan separo agamanya, maka hendaklah dia bertakwa kepada Allah pada separo sisanya.” (Rowahu al-Baihaqi)

Sebagai start awal dan dasar tindakan, maka ke depannya harus dipahami terus dan dilestarikan, jika dalam perjalanan biduk rumah tangganya melenceng atau keluar jalur dari tujuan utamanya: untuk menyempurnakan agama. Bagi pasutri yang tidak meletakkan niat menyempurnakan agama ini sebagai hal yang utama dan number one, maka sebaiknya harus segera dikoreksi. Taruhlah hal ini sebagai prioritas utama. Sebab kesempurnaan agama yang dimaksud bukanlah kesempurnaan agama satu pihak saja. Kesempurnaan agama suami thok atau kesempurnaan agama istri thok. Melainkan kesempurnaan agama bagi kedua belah pihak, baik suami maupun istri. Jadi, kalau yang merasa diuntungkan hanya sebelah pihak saja berarti kurang sempurna. Harus dua – duanya. Ya, baik dari suami maupun istri. Dan keadaan saling menguntungkan inilah maksud adanya janji pertolongan Allah karenanya.

Dari Abu Huroiroh ra. ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Ada tiga manusia yang Allah pasti menolong mereka, yaitu mujahid di jalan Allah, budak yang berniat melunasi pembebasannya, dan orang yang menikah karena ingin terjaga.” (Rowahu at-Tirmidzi, ia berkata ini hadits hasan shohih).

Karena dasar menyempurnakan agama itu bersifat universal, multi aspek, maka ia tidak menafikan adanya pilihan – pilihan lain dalam memilih calon pasangan. Boleh pilih yang cantik rupawan, boleh memilih yang model kebarat – baratan, boleh yang kriting, dsb asal suka dan agamanya oke punya. Juga boleh memilih yang kaya, bisnisman, enterpreneur, dsb yang penting punya agama yang paten. Boleh juga memilih yang ningrat, berpangkat, dsb asal tetap ditunjang agama yang baik. Atau bahkan gabungan dari ketiganya cantik, kaya dan ningrat dengan kualitas pemahaman agama yang akuntabel. Orang jawa bilang bobot, bibit, bebet. Namun pilihan – pilihan itu ada konsekuensi dan problematikanya, sehingga Nabi SAW memberikan password agar dalam mengusung niat berumah tangga atas dasar agama. Sebab ia mencukupi, mampu mewadahi dan melintasi batas ketiga unsur lainnya.

Dari Abu Huroiroh ra., bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Perempuan itu dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya, raihlah/carilah yang taat beragama, niscaya kamu beruntung.” (Rowahu al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, an-Nasa’i dan Ibnu Majah).

Pada dasarnya kecantikan, kedudukan dan kekayaan bersifat lahiriah semata. Sedangkan ketaatan beragama bersifat lahir dan batin. Berasal dari kepahaman hati dan tampak dalam amalan. Kepahaman membungkus setiap sifat dan gerak – gerik dalam keseharian. Singkatnya dengan mempunyai kepahaman agama yang baik, seperti bertindak di saat yang tepat, tempat yang tepat dan sasaran yang tepat. Jadi tidak pernah meleset. Oleh karena itu, sungguh sangat berharga mempunyai pasangan yang taat beragama.

Dari Anas ra., bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang dikaruniai Allah istri yang sholihat, maka sungguh Allah telah menolongnya atas separo agamanya, maka hendaklah dia bertakwa kepada Allah dalam separo yang lainnya.” (Rowahu ath – Thabrani dalam al-Mu’jam al-Ausath dan al –Hakim)

05/10/09

Tentang Perkawinan & Pernikahan


Banyak orang Indonesia yang merindukan kebahagiaan dalam perkawinannya, tapi tidak sedikit keluarga yang gagal dalam membangunnya.

Fenomena ini membuat sebagian orang takut untuk menikah, sehingga mereka lebih senang melajang dan menikmati kesendiriannya.

Sebelum kita memutuskan untuk memasuki pernikahan, kita harus mengerti dengan baik tentang APA, MENGAPA & BAGAIMANA kita menikah

APA ITU PERNIKAHAN?

Pernikahan adalah sebuah hubungan total antara dua lawan jenis yang terikat dalam semua aspek kehidupan mereka dalam kurun waktu selamanya, bukan srminggu, sebulan, setahun, atau sepuluh tahun.
Hubungan ini adalah mencakup hubungan intelektual, hubungan emosional, hubungan spiritual, hubungan social dan tentunya hubungan secara fisik.

Pernikahan tidak sama dengan hubungan kontrak.
Pernikahan adalah sebuah perjanjian tanpa syarat dan bukan untuk saling menuntut. Pernikahan harus berlandaskan CINTA yang ingin memberi kepada pasangannya

MENGAPA KITA MENIKAH?

Kita adalah mahluk sosial yang memerlukan kumunitas untuk hidup bertumbuh dan berkembang. Kita menikah membutuhkan seseorang yang bisa diajak bercengkrama ketika senang, menangis bersama ketika sedih, tertawa ketika gembira. Paling tidak kita masih memiliki seseorang yang peduli dan memperhatikan kita ketika usia telah lanjut dan anak-anak telah menikah meninggalkan kita.
Menikah juga salah satu misi Tuhan yang harus kita jalankan dalam memenuhi bumi ini dengan anak dan cucu kita. Sehingga harus kita sadari, kalau kita menikah maka kita sudah menjadi satu bagian yang tidak dapat dipisahkan oleh manusia.

BAGAIMANA SIH....KITA MENIKAH?

Pernikahan sehat harus berdasarkan CINTA antara kedua belah pihak yang sepakat untuk membangun sebuah hubungan total. Keterbukaan dan saling percaya adalah perekat dalam pernikahan dan hal ini dapat dijadikan dasar dalam membangun pilar-pilar kemunikasi di dalam pernikahan.
Masing-masing pihak harus mnegenali diri sendiri dan pasangannya. Kemudia kita juga mengetahui peranan masing-masing dalam pernikahan. Peran suami dalam keluarga adalah sebagai pemimpin, sumber dan pemelihara, sedangkan peran istri adalah sebagai penolong dan penopang dalam keluarga. Jangan lupa, peran penolong biasanya lebih besar dalam keluarga. Kita dapat melihat contoh dalam kehidupan sehari-hari, yaitu seorang wanita biasanya lebih mampu kerja rangkap mengasuh anak, sambil bekerja san tetap melakukan tanggungjawab rumah tangga dimana biasanya seorang pria akan kewalahan dalam melakukan pekerjaan yang sama tersebut secara bersamaan

ATAP KUANGAN YANG BERSATU

Kita harus mengayomi pernikahan dengan atap keuangan yang bersatu. Tanpa kesatuan dalam keuangan akan selalu membuka exit door dalam pernikahan. Perceraian selalu jadi momok dalam pernikahan

Salam

Alex Bernadi

PS: Bagi Anda yang INGIN mengetahui lebih lanjut seputar masalah pernikahan, serta meminta solusi dari problematika pernikahan Anda, kami menawarkan jasa konsultasi via phone/sms atau pertemuan langsung, silahkan contact: 081585 313 754

Beberapa bulan terakhir cukup banyak yang menghubungi saya sehingga menyita waktu dan pulsa, maka sejak saat ini dengan berat hati kami akan menerapkan fee atas jasa tsb, silahkan contact untuk mengetahui rate fee tsb. Terima Kasih

23/07/09

Yang Utama Dalam PerKAWINan

Terlepas dari benar tidaknya perkara KPK yang tengah hangat di sekitar kita, ada satu poin penting yang perlu menjadi perhatian kita bersama yaitu jejaring syaitan. Dalam hadits disebutkan bahwa wanita adalah jaring – jaring syetan, ketika keluar, syaitan selalu menghias-hiasi dan memuliakan wanita sehingga menarik perhatian lawan jenisnya. Kalau sekarang banyak wanita yang protes dengan keadaan tersebut, itu wajar dan syah – syah saja, karena Aisyah dulu pun sudah melakukannya. Kurang lebih dia berkata begini, ”Udah tahu wanita itu syaitan yang diciptakan untuk lelaki, tetapi kenapa juga masih berusaha mendekati.”

Nah, suatu waktu, Nasruddin Hoja berjalan – jalan bersama istri tercintanya. Sebagaimana biasa, begitu melihat wanita cantik, ia pun melirik. Sadar akan hal itu, istri Nasruddin Hoja protes, ”Itulah kerugian laki – laki, selalu merasa wanita lain lebih cantik dari istrinya.”

Merasa dirinya terpojok, Nasruddin Hoja tidak mau kalah, ”Malah terbalik, di situlah letak keberuntungan laki – laki. Selalu sadar akan perlunya mengagumi keindahan. Bukankah keindahan adalah bahasa Tuhan?!”
Entahlah, yang jelas demikianlah manusia zaman ini suka dipermainkan oleh pikirannya. Padahal syetan yang menungganginya. Cirinya sederhana, selalu mencari–cari alasan agar keinginan, hawa nafsu, dan perubahan memperoleh pembenaran. Dan lebih hebat lagi, tatkala alasan–alasan ini ketemu, ada yang meng-klaim diri objektif, alias bebas dari kepentingan serta vested interest. Padahal kanjeng Nabi sudah wanti – wanti, bahwa fitnah terbesar umat ini adalah wanita.

Dari Abu Sa’id al-Khudri, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau dan sesungguhnya Alloh menjadikan kalian sebagai khalifah di muka bumi, maka Dia akan melihat bagaimana kalian berbuat, maka takutlah terhadap (fitnah) dunia dan takutlah terhadap (fitnah) wanita (karena sesungguhnya fitnah pertama yang menimpa Bani Isroil adalah karena fitnah kaum wanita)” (Rowahu Muslim Hadits no 2742, Ahmad 3/22, at-Tirmidzi no 2192 dan Nasa’i)

Diriwayatkan pula oleh An-Nasa’i dengan tambahan, ”Tidaklah aku tinggalkan fitnah setelahku yang lebih berbahaya bagi kaum lelaki daripada (fitnah) wanita.” (Juga diriwayatkan oleh Muslim dan Bukhori dari Usamah bin Zaid)
Seribu macam alasan pembenaran bisa diperoleh. Sejuta alasan bisa ditemukan. Namun itu masih bersifat sepihak. Jelas–jelas sudah banyak contohnya, kalau salah memperlakukan seorang wanita.... hidup bisa berantakan. Urusan bisa jadi runyam, gara–gara tidak bisa mendudukkan posisi wanita sebagaimana porsinya. Sebab selain sebagai fitnah, wanita juga sebagai sebaik–baik perhiasan dunia yaitu mar’atus sholihah. Dua sisi ini harus diperlakukan sesuai matra dan waktunya. Salah situasi dan kondisi, adalah bom waktu yang siap meledak setiap saat. Wanita tidak boleh dijauhi, juga tidak boleh diakrabi, kecuali dengan pakem yang jelas.

Salah satu resep yang dianjurkan oleh Nabi SAW adalah menikah. Karena dengan menikah berarti telah terjaga setengah dari agama kita. Jika dipandang perlu, Nabi Muhammad SAW mencontohkan dengan poligami atau wayuh. Akan tetapi, tetap saja perselingkuhan bisa terjadi kepada siapa saja. Kapan saja dan dimana saja. Sekali pun dia sudah wayuh. Itu belum jaminan terhindar dari fitnah wanita. Sebab masih ada setengah yang lain yang perlu dijaga. Di situlah kesempatan syaitan masuk. Nah, yang terpenting dalam prinsip menikah yaitu menikahlah dengan orang yang kau cintai. Tidak penting dia cantik, tinggi, pendek, gemuk atau kurus. Yang penting kita cinta dia. Setelah itu, cintailah orang yang kau nikahi. Kenali, sayangi, hormati dan gembirakan – syukuri, sehingga kita temukan betapa mulianya makhluk yang diciptakan Allah sebagai pasangan hidup kita ini.


Dengan memuliakan pasangan hidup kita, berarti kita memuliakan diri sendiri. Dan memuliakan diri sendiri adalah jalan masuk untuk memperoleh kebahagiaan yang hakiki, sebagaimana orang jawa bilang; garwo – sigaraning nyowo – yaitu belahan jiwa. Seseorang yang rela bekerja sama dengan kita untuk menjaga diri, menghindari pelanggaran – pelanggaran dan untuk beribadah meraih surga bersama – sama.

Ketika kita bisa melalui tahap kedua ini – cintailah orang yang kau nikahi -, kita pasti tersadar apa maksud nasehat perkawinan tempo dulu yang sering berkumandang dengan lantang: pokok bolong. Namun, perkembangan peradaban telah mengikis patron itu. Orientasi kita bergeser karena adanya banyak pilihan. Namun sejatinya, pokok bolong itulah yang utama dalam perkawian. Apalagi kalo lampu mati....Pet..!
(sumbangan tulisan o/ Kusmono)

04/02/09

ESENSI PERKAWINAN DALAM ISLAM

Seduluur..pembaca setia blog perkawinan bahagia...yg saya cintai
Mohon maaf....lamaaaa sekali tidak posting....Beberapabulan yll saya resign dari kantor saya..
saya full bisnsis aja....Tulisan berikut ini buat mba teeka...smoga cepat dapat gandengan...amiiin

ESENSI PERKAWINAN DALAM ISLAM

1. Jodoh adalah Takdirnya Alloh.

Alloh telah berfirman dalam Alquran surat Ar-Ruum ayat 21
”Wa min aayaatihii ankholaaqolakum min anfusikum azwaajan litaskunuu ilaihaa, wa ja’ala bainakum mawaddatan warohmah, inna fii zalika la aayaatin yatafakkaruun”

Artinya:
”Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Alloh bahwa Alloh telah menciptakan untukmu isteri-isteri dari kalanganmu sendiri, agar kamu sekalian tentram kepadanya, dan Alloh telah menjadikan diantara kamu sekalian rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya didalam demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Alloh bagi orang-orang yang berfikir."

Penjelasan:
Ayat ini menjelaskan TENTANG PERJODOHAN, Bahwa sebagai tanda kekuasaan Allah, Allah telah menciptakan manusia dan memberi setiap diri itu pasangan/jodoh atau istri. Bahkan dalam ayat itu disebutkan jamak yaitu istri-istri artinya satu orang lelaki boleh memiliki istri lebih dari satu (sampai 4). Ayat ini tidak pernah ditafsirkan kalau istri itu harus satu dan/atau sampai mati. Tidak. Garis besar ayat ini menjelaskan adanya pasangan/jodoh bagi setiap individu.

2. Menikah-lah Maka Rejekimu akan Lancar

Firman Alloh dalam Alquran surat Ar-Nuur ayat 32

”Wa ankihuulayaamaa minkum wassholihiin min ibaadikum wa imaaikum iyyakuunu fuqoroo’a yughnihimulloohu min fadlih. Waaloohu waasi’un ’aliim”

Artinya:
"Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui."

Penjelasan:
Sebenarnya kita tidak perlu ragu lagi untuk menikah, dengan adanya janji Alloh dalam surat diatas kita sudah dipastikan rejekinya, ibarat sungai itu sudah ada jalurnya, lebarnya, dalamnya dan kecepatannya. Kita hanya tinggal berusaha menemukannya saja.

Jika suatu saat ada orang yang mengatakan, "secara materi saya belum siap," saya akan selalu mengejar dengan pertanyaan yang lain, "berapa standar kelayakan materi seseorang untuk menikah?" Tak ada..!!!. Sebenarnya tak ada. Jika kesiapan menikah diukur dengan materi, maka betapa ruginya orang-orang yang papa. Begitu juga dengan kesiapan-kesiapan lain yang bisa diteorikan seperti kesiapan emosi, intelektual, wawasan dan sebagainya. Selalu tak bisa dimatematiskan. Itulah sebabnya saya mengatakan bahwa menikah adalah sesuatu yang sangat kodrati.
Bukan dalam arti saya menyalahkan teori-teori kesiapan menikah yang telah dibahas dan dirumuskan oleh para ahli. Tentu saja semua itu perlu sebagai wacana memasuki sebuah dunia ajaib bernama keluarga.. Sebagai contoh saja, banyak pemuda berpenghasilan tinggi, namun belum juga merasa siap untuk menikah. Belum siap..lah...Belum qodar lah (belum usaha..kok bilang qodar). Lagi nyicil..lah dll begitu sanggah mereka. Itu alasan yang paling mudah dijumpai.

15/10/08

Cinta Jarak Jauh


Beberapa saat yg lalu ada yang bertanya ke saya, apa suka dukanya memiliki calon istri yang dipisahi oleh jarak? Cowoknya di Batam doinya di kalimantan.

Mencintai seseorang yang dibatasi oleh jarak tentunya akan sangat merepotkan, apalagi yang tongpes..rasa rindu akan sangat menyiksa Anda untuk segera bertemu, apa akal?


Ada beberapa saran yg dapat saya anjurkan:

1. Anda harus mendapatkan ’cintanya’ sebab dengan berjauhan sangat mudah baginya terpengaruh org lain (cintanya pindah ke lain hati).

Caranya, Anda harus: 

• Memberikan perhatian lebih padanya dengan sering bertemu (yg tidak melanggar lho...) ajak adiknya atau temannya untuk nemenin supaya tidak nyepi, berikan hadiah kecil2an (bisa kartu ucapan atau buah yg di kemas menarik) tiap datang, supaya tidak melanggar, pemberiannya di ketahui pengurus/ortu (via pengurus).  Gunakan setiap pertemuan untuk mengetahui lebih dalam tentang cita-citanya, kesukaannya dll. 

• Pertemuan bisa diisi dengan nasehat agama/mengkaji qur'an-hadist (supaya tambah keimanannya). Semakin paham semakin tergerak hatinya untuk menikah 

• Tunjukkanlah Anda layak sebagai suaminya, berpikiran dewasa, mampu memimpin/ngemong, PD/mandiri 

• Lumpuhkan hatinya, dengan memberikan ’pandangan mata’ (baca kepribadiannya), jangan lupa, pujilah penampilannya, wajahnya atau apapun kejadian didirinya saat itu. 

• Tanyakan pada org yg dipercaya (ibu/bapak atau adik/sdrnya) minta pendapat mereka, ”apa yg pantas harus saya lakukan untuk meluluhkan hatinya?” 

• Ketahuilah, bentuk penolakan dia (belum mau saat ini) adalah cara dia untuk mengetes kekuatan cintamu (apakah Anda benar sungguh-sungguh???), kalau perlu buktikan!!, dengan menyampaikan lamaran 

• Niatkan semua yg Anda lakukan adalah karena Alloh, cari Sorga, ingin pahala, derajat yg tinggi di Sorga. 

2. Setelah melakukan usaha untuk mencapainya, berprasangka baiklah pada Alloh (kalau dia jodoh saya, dia tidak akan lari kemana...) Dengan berprasangka baik, kita akan tetap fokus kearah keberhasilan. Ikuti firasat anda. Perhatikan tanda-tanda. Dengarkan intuisi Anda, ini akan memicu tindakan terilhami anda.

3. Sabar dan pasrahkan semuanya pada Alloh.  Banyaklah berdoa dan sholat malam (termasuk istikhoroh).  Sabar adalah sebuah bentuk kekuatan, inilah harga yg harus Anda bayar, apakah Anda kuat menahan sampai hatinya tergerak..., sampai hatinya luluh.... dan itu tidak akan lama kalau anda sabar. Pasrah adalah setelah setiap usaha yg kita lakukan, pilihan apa yg kita inginkan, biarkan kekuatan Alloh akan membawanya pada anda.  Biarkan Dia (Alloh) mengatur peristiwa yg akan mewujudkan keinginan Anda.


Usaha lainnya, kamu supaya BERTINDAK secepatnya, yaitu dengan cara
1. Cepat datangi si dia dan melamar si doi langsung...perlu koordinasi sama pengurus setempat atau keluarganya 
2. Siapkan dana, terutama setelah melamar dan menanyakan mas kawin yg diminta..kamu harus persiapan dari sekarang...Kalau ternyata harga tinggi khan bisa dicicil 
3. Banyak2 berdoa & sholat malam...Pasrahkan semua pada Alloh..InsyaAlloh keajaiban akan terjadi dengan pertolongan Alloh 
4. Jangan lupa harus sering komunikasi dengan ortu (ibu) juga dengan doi..minimal sms 

Ayoo bertindak...!

Semoga membawa manfaat dan Barokah

25/07/08

PEASAN (tim) PERKAWINAN

Mengawali tulisan saya yang pertama ini, perkenankan kami mengucapkan: Barokallohulakum...! Pada pasangan mas Agus Slow dan Ratih yg telah melangsungkan pernikahannya pada minggu 20 Juli kemaren. Selanjutnya kami akan berkirim sebuah “pesan perkawianan” buat sedulur semua. Bukan sebuah bingkisan layaknya paket atau parcel, namun sebuah tips / nasehat terutama bagi pasangan muda, juga untuk semua muda/i yang akan memasuki dunia perkawinan.


Kunci Sukses Hubungan Pasangan

Ada banyak hal yang bisa pasangan lakukan untuk meningkatkan hubungan dan memberi ruang bagi kehidupan biologis yang lebih baik. Salah satu rahasianya adalah 4T: Time, Talk, Trust, dan Touch. 4T merupakan kunci terciptanya kepuasan hubungan tercapai, menjamin hubungan berkualitas dan sehat serta membuka kesempatan bagi pengayaan seksual.

Tidak dipungkiri setiap hubungan membutuhkan Time (waktu) agar hubungan terpelihara dan tumbuh subur. Satu dari keluhan pasangan adalah sedikitnya waktu untuk bersama yang disebabkan rutinitas sehari-hari seperti karir dan keluarga. Sekalipun jika mereka memiliki waktu bersama, pasangan merasa terputus karena mereka tidak tahu mengatasinya. Akibatnya tumbuh perasaan terpisah hingga berpengaruh pada kehidupan seksual. Jika ini yang terjadi, biasanya sulit memiliki waktu untuk mengatasi masalah ini ketika di rumah.

Practise makes perfect, biasakan memiliki waktu berdua bersama pasangan tanpa beban apapun termasuk waktu bagi aktivitas seksual. Artinya Anda tidak perlu terburu-buru hubungan intim hanya karena pasangan Anda kuatir kehilangan ereksi. Biarkan hubungan seksual tetap hidup dan bukan hanya terfokus pada hubungan intim. Keinginan dan kerja sama dengan pasangan itu penting. Perhatikan pasangan Anda secara umum bukan hanya seksual saja. Malam yang tenang dan sunyi dapat menjadi tonik bagi pasangan.

Talk (bicara), membuka pintu bagi keintiman untuk lebih saling berbagi sehingga memungkinkan ruang masing-masing pasangan berkembang. Penelitian menujukan pasangan yang sibuk hanya menghabiskan beberapa menit bicara setiap hari sehingga penting saling terhubung melalui pembicaraan. Banyak masalah seksual yang dialami pasangan diakibatkan pasangan enggan menyampaikan. Karena itu sikap terbuka dan berani berbicara dijamin dapat meningkatkan keintiman diantara pasangan.

Trust (percaya) biasanya tumbuh seiring dengan time (waktu) dan talk (bicara) karena sebuah hubungan bisa bertahan bila didasari pada kepercayaan. Percaya juga mejadi dasar tumbuhnya rasa aman satu sama lain dalam sebuah hubungan intim. Percaya juga mengurangi kekuatiran perlakuan kasar dan penolakan dan memungkinkan pasangan merasa santai dalam kehadirannya.

Touch (sentuhan, belaian, pelukan), kita dibesarkan dan disayang dengan cinta dan sentuhan kasih sayang orang tua dan keluarga. Penelitian menujukan bayi yang tidak mendapat sentuhan kasih sayang orang tua gagal bertahan hidup. Seperti halnya bayi, orang dewasa-pun membutuhkan sentuhan, sentuhan kasih sayang diantara pasangan baik di dalam maupun di luar tempat tidur karena hal ini merupakan bagian penting dalam hidup bersama.

4T ini sangat penting dilakukan dalam hubungan bersama pasangan sebagai dasar hubungan yang sehat dan lingkungan bagi keterbukaan, kejujuran dan kepuasan seksual. (selamat bulan madu..!)

13/06/08

Menyingkap Akar Sejarah Poligami



Poligami merupakan topik kajian yang selalu sengit diperdebatkan dalam diskursus fiqh munakahat Islam. Tak jarang sejumlah sejarawan melancarkan serangan telak bahwa Nabi Muhammad-lah yang pertama kali memprakarsai tradisi poligami. Jelas, tudingan macam itu terlalu mengada-ada. Sejarah membuktikan bahwa tradisi poligami sudah ada jauh sebelum Islam datang di kalangan suku-suku Arab pra-Islam, Persia, Yahudi, dan lain-lain. Tak hanya oleh suku-suku primitif, poligami juga beroleh tempat di kalangan suku-suku beradab.

Inilah cikal bakal silang pendapat poligami yang didedahkan Murthadha Muthahhari dalam bukunya, Duduk Perkara Poligami. Ia menggali akar poligami sejak perkembangannya yang paling purba. Bagaimana mungkin para sejarawan berkesimpulan bahwa Islam menumbuhsuburkan adat poligami, padahal usia poligami lebih tua dari usia Islam itu sendiri.

Sayang sekali, buku ini hanya hasil terjemahan satu bab dari The Right of Women in Islam (1981), bukan gagasan utuh Murthadha yang sangat erat kaitannya dengan polemik poligami. Inilah risiko yang mesti ditanggung akibat ketergesaan penerbit dalam mengejar target tema yang sedang santer diperbincangkan, tapi abai pada bagian-bagian yang "diduga" tak punya nilai jual.

Murthadha menyangkal poligami sebagai tirani, dominasi, dan perbudakan pria atas wanita. Muasal sejarah munculnya poligami bukan karena pria mendominasi wanita, lalu mereka merancang tradisi yang menguntungkan mereka. Kemunduran poligami juga bukan karena dominasi pria sudah mulai goyah.

Dalam konteks ini, ia menggunakan logika terbalik, kalau memang dominasi pria menjadi sebab poligami, kenapa Barat tidak menerapkannya? Padahal, di Abad Pertengahan, wanita Barat adalah wanita yang paling tidak beruntung di dunia. Seperti diakui Gustave le Bon bahwa pada zaman peradaban Islam, wanita diberi kedudukan yang persis sama dengan wanita Barat jauh hari kemudian. Setelah mempelajari sejarah zaman dahulu, tak ada lagi keraguan bahwa Islam mengajari kakek-kakek kita mengasihi wanita dan menghormatinya.

Kalau memang Islam menaruh hormat pada hak-hak wanita, kenapa hanya kaum pria yang boleh menikahi lebih dari satu istri (poligami), sementara wanita tidak? Murthadha merujuk sebuah riwayat ketika sekelompok wanita menghadap Sayidina Ali dan bertanya, "Mengapa Islam memperkenankan laki-laki punya lebih dari seorang istri tapi tidak mengizinkan wanita bersuami lebih dari seorang? Bukankah ini tidak adil?"

Ali menyuruh masing-masing dari mereka mengambil cangkir berisi air, lalu meminta mereka menuangkannya ke dalam mangkuk besar. Setelah cangkir-cangkir mereka kosong, Ali meminta mereka mengisi kembali cangkir dengan air dari mangkuk besar itu, dengan ketentuan mereka harus mengambil air yang tadi ditumpahkannya. "Air itu sudah tercampur, tak mungkin dipisahkan lagi," kata mereka. Maka, Ali berkata, "Bila seorang istri punya beberapa orang suami, ia akan melakukan hubungan seks dengan setiap suaminya, kemudian ia akan hamil. Bagaimana ia menentukan ayah anak yang dikandungnya?"

Murthadha hendak meluruskan pemahaman yang keliru terhadap tradisi poligami. Ia tak berpretensi memaklumatkan poligami lebih bermartabat ketimbang monogami. Ia hanya mempertanyakan, mengapa banyak orang mengecam keras poligami, sementara pada saat yang sama seks bebas dan homoseksual justru diperkenankan. Pria-pria modern bisa gonta-ganti pacar tanpa memerlukan formalitas mahar, nafkah, atau perceraian.

Bertrand Russell, pemikir yang paling keras mengecam poligami, dalam otobiografinya berkisah bahwa dalam hidupnya ada dua wanita setelah ibunya, yaitu Alys (istrinya) dan Lady Ottoline Morell (kekasihnya). Meski Russell tidak menyukai poligami, suatu hari filsuf itu jujur mengakui: "Mendadak saya sadar bahwa saya tidak lagi mencintai Alys." Kalau sudah begini, tentu poligami tak berguna lagi. Poligami atau tidak, hubungan perkawinan tentu bukan sebatas urusan seks.

DUDUK PERKARA POLIGAMI
Judul Asli : The Right of Women in Islam
Penulis : Murthadha Muthahhari
Penerbit : Serambi, Jakarta, Cetakan I, 2007, 154 halaman

By: Damhuri Muhammad (Alumnus Pascasarjana Filsafat UGM)

04/06/08

TIPS MEMILIH PASANGAN


Ingin hubungan Anda dengan pasangan lancar dan langgeng?, Bagaimanakah cara membangun kehidupan cinta yang sehat dengan Si Dia?. Berikut tips-nya:


* Bijaksana Memilih Pasangan.
Perhatikan karakter, kepribadian, nilai diri, kemurahan hati, cara berbicara, tindakan, serta cara bagaimana dia berhubungan dengan orang lain.

* Ketahui Pandangan dan Keyakinan Si Dia.
Tentu Anda tak ingin jatuh cinta kepada seseorang yang memiliki reputasi buruk di dalam hubungan percintaannya, bukan? Misalnya saja, Si Dia sering ketahuan tidak jujur dan kerap berbohong.

* Jangan Rancukan Seks Dengan Cinta.
Terutama di awal suatu hubungan, ketertarikan dan kesenangan melakukan hubungan seks sering disalahartikan sebagai cinta yang menggebu dari pasangan.

* Mengerti Kebutuhan dan Berdiskusi Secara Jelas.
Banyak orang, baik pria maupun perempuan, takut untuk menyatakan kebutuhannya. Ingat, kedekatan tak dapat berjalan baik tanpa kejujuran, dan pasangan bukanlah seorang paranormal atau ahli membaca pikiran.

* Saling Menghargai.
Baik di dalam maupun di luar hubungan cinta, sebaiknya Anda dan Si Dia saling memperlihatkan sikap yang layak dihargai masing-masing pasangan.

* Anda dan Si Dia Bisa Menjadi Tim Kompak.
Artinya, Anda berdua merupakan dua individu yang unik, yang mempunyai perspektif dan kelebihan-kelebihan yang berbeda. Perbedaan-perbedaan ini merupakan nilai plus dari suatu tim yang kompak dalam melakukan banyak hal berdua.

* Tahu Cara Mengelola Perbedaan.
Belajarlah cara mengatasi perasaan negatif yang tidak terhindarkan, yang disebabkan oleh perbedaan antara Anda dan si Dia. Menutup diri atau menghindari konflik juga bukan suatu cara mengelola perbedaan yang baik!

* Jangan Malu Bertanya.
Jika Anda tidak mengerti atau tak menyukai salah satu hal yang dilakukan si Dia, tanyakan kepadanya. Bicarakan secara terbuka dan kembangkan diskusi di dalam suasana yang positif, dan jangan pernah ber-asumsi.

* Atasi Masalah yang Timbul.
Sebagian besar kesalahan yang terjadi dalam suatu hubungan cinta, dapat dilacak dari munculnya rasa sakit hati, atau sikap yang merubah menjadi defensif terhadap pasangannya, sehingga terciptalah dua orang yang saling merasa asing atau bermusuhan.

* Belajar Bernegosiasi.
Oleh karena kebutuhan manusia dan tuntutan kehidupan selalu berubah-ubah seiring dengan berjalannya waktu, maka hubungan cinta yang sehat dan baik dapat dinegosiasikan ulang setiap saat bersama si Dia.

* Mendengarkan Kekhawatiran dan Keluhan si Dia
Jangan berlakukan sikap menghakimi terhadap si Dia. Buka diri dan berikan empati kepada calon pasangan Anda.

* Berusaha Pertahankan Kedekatan.
Hubungan yang baik dan sehat, bukan merupakan tujuan akhir, tetapi merupakan proses jangka panjang yang perlu selalu dijaga dan dipertahankan, melalui perhatian yang konstan dan teratur.

* Miliki Pandangan Jangka Panjang.
Perkawinan merupakan kesepakatan bersama untuk menjalani dan menghabiskan kehidupan hingga hari tua nanti. Teliti lagi impian Anda dengan si Dia secara teratur, untuk memastikan Anda berdua berada di jalan dan jalur yang selalu sama.

* Seks yang Baik.
Seks itu sangat mudah dilakukan, tetapi menjaga kedekatanlah yang justru sulit. Kedekatan membutuhkan kejujuran, keterbukaan, penyingkapan diri, berbagi kekhawatiran dan ketakutan, demikian juga kesedihan, harapan serta impian. Jadi, jangan pernah pergi tidur dalam keadaan marah.

* Minta maaf.
Setiap orang bisa membuat kesalahan. Memperbaiki, atau berniat memperbaiki kesalahan, sangat penting bagi kebahagiaan Anda berdua, juga dalam hal perkawinan.

* Hindari Ketergantungan Berlebihan.
Tergantung kepada seseorang tidaklah buruk, tetapi sangat tergantung pada pasangan untuk hal-hal kecil merupakan celah ketidakbahagiaan bagi kedua pasangan.

* Jaga Harga Diri dan Rasa Percaya Diri.
Lebih mudah bagi seseorang untuk menyukai dan berada di dekat Anda jika Anda pun menyukai diri sendiri.

* Perkaya Hubungan Anda berdua.
Ciptakan minat-minat baru ke dalam hubungan cinta Anda agar hubungannya dengan Si Dia semakin kaya. Semakin besar gairah kehidupan yang Anda miliki dan berbagi bersama pasangan, semakin kaya hubungan Anda berdua.

* Kerjasama yang Baik.
Berbagilah tanggung jawab dengan pasangan. Hubungan cinta yang sehat akan berhasil hanya jika terjadi secara dua arah, yaitu dengan saling memberi dan menerima.

* Ketahui Pasang Surut Hubungan.
Di mana pun juga, setiap hubungan cinta pasti akan melewati pasang surutnya masing-masing. Melalui masa-masa sulit bersama pasangan, akan membuat hubungan Anda menjadi lebih kuat.

* Miliki Kepekaan Atas Hubungan yang Buruk
Jangan melarikan diri jika hubungan cinta mulai memburuk. Gunakan pengalaman buruk ini sebagai cermin untuk melihat ke dalam diri, agar bisa mengerti apa yang telah Anda berdua ciptakan dalam hubungan ini.

* Tak Ada Cinta yang Mutlak.
Jika Anda belajar cara-cara atau tips baru untuk berinteraksi dengan Si Dia, perasaan-perasaan cinta akan selalu bisa muncul dan muncul lagi, bahkan dapat lebih kuat dari sebelumnya.

Sumber : Kompas Online