Translate

10/04/07

Jika Engkau Jadi Istriku Nanti

Jika seorang lelaki ingin menarik hati seorang wanita, biasanya yang ditebarkan adalah berjuta-juta kata puitis bin manis, penuh janji-janji untuk memikat hati, "Jika kau menjadi istriku nanti, percayalah aku satu-satunya yang bisa membahagiakanmu," atau "Jika kau menjadi istriku nanti, hanya dirimu di hatiku" dan "bla...bla...bla..." Sang wanita pun tersipu malu, hidungnya kembang kempis, sambil menundukkan kepala, "Aih...aih..., abang bisa aja." Onde mande, rancak bana !!!

Lidah yang biasanya kelu untuk berbicara saat bertemu gebetan, tiba-tiba jadi luwes, kadang dibumbui 'ancaman' hanya karena keinginan untuk mendapatkan doi seorang. Kalo ada yang coba-coba main mata ama si doi, "Jangan macem-macem lu, gue punya nih!" Amboi... belum dinikahi kok udah ngaku-ngaku miliknya dia ya? Lha, yang udah nikah aja ngerti kalo pasangannya itu sebenarnya milik Allah SWT.

Emang iya sih, wanita biasanya lebih terpikat dengan lelaki yang bisa menyakinkan dirinya apabila ntar udah menikah bakal selalu sayang hingga ujung waktu, serta bisa membimbingnya kelak kepada keridhoan Allah SWT. Bukan lelaki yang janji-janji mulu, tanpa berbuat yang nyata, atau lelaki yang gak berani mengajaknya menikah dengan 1001 alasan yang di buat-buat.
Kalo lelaki yang datang serta mengucapkan janjinya itu adalah seseorang yang emang kita kenal taat ibadah, akhlak serta budi pekertinya laksana Rasulullah SAW atau Ali bin Abi Thalib r.a., ini sih gak perlu ditunda jawabannya, cepet-cepet kepala dianggukkan, daripada diambil orang lain, iya gak? Namun realita yang terjadi, terkadang yang datang itu justru tipe seperti Ramli, Si Raja Chatting, atau malah Arjuna, Si Pencari Cinta, yang hanya mengumbar janji-janji palsu, lalu bagaimana sang wanita bisa percaya dan yakin dengan janjinya?

Nah... Berarti masalahnya adalah bagaimana cara kita menjelaskan calon pasangan untuk percaya dengan kita? Pusying... pusying... gimana caranya ya? Iiih nyantai aja, semua itu telah diatur dalam syariat Islam kok, karena caranya bisa dengan proses ta'aruf. Apa sih yang harus dilakukan dalam ta'aruf? Apa iya, seperti ucapan janji-janji seperti diatas?
Ta'aruf sering diartikan 'perkenalan', kalau dihubungkan dengan pernikahan maka ta'aruf adalah proses saling mengenal antara calon laki-laki dan perempuan sebelum proses 'nd' dan pernikahan. Karena itu perbincangan dalam ta'aruf menjadi sesuatu yang penting sebelum melangkah ke proses berikutnya. Pada tahapan ini setiap calon pasangan dapat saling mengukur diri, cocok gak ya dengan dirinya. Lalu, apa aja sih yang mesti diungkapkan kepada sang calon saat ta'aruf?

1. Keadaan Keluarga Jelasin ke calon pasangan tentang anggota keluarga masing-masing, berapa jumlah sodara, anak keberapa, gimana tingkat pendidikan, pekerjaan, dll. Bukan apa-apa, siapa tahu dapat calon suami yang anak tunggal, bokap ama nyokap kaya 7 turunan, sholat dan ibadahnya bagus banget, guanteng abis, lagi kuliah di Brunei (ehm kerja bo..), pokoknya selangit deh! Kalo ketemu tipe begini, sebelum dia atau mediatornya selesai ngomong langsung kasih kode, panggil ortu ke dalam bentar, lalu bilang "Abah, boljug tuh kaya' ginian jangan dianggurin nih. Moga-moga gak lama lagi langsung di en-de ya Baah, kan bisa diajak ke Brunei!" Lho? :D

2. Harapan dan Prinsip Hidup Warna kehidupan kelak ditentukan dengan visi misi suatu keluarga lho, terutama sang suami karena ia adalah qowwan dalam suatu keluarga. Sebagai pemimpin ia laksana nahkoda sebuah bahtera, mau jalannya lempeng atau sradak-sruduk, itu adalah kemahirannya dalam memegang kemudi. Karena itu setiap calon pasangan kudu tau harapan dan prinsip hidup masing-masing. Misalnya nih, "Jika kau menjadi istriku nanti, harapanku semoga kita semakin dekat kepada Allah" atau "Jika kau menjadi istriku nanti, mari bersama mewujudkan keluarga sakinah, rahmah, mawaddah." Kalo harapan dan janjinya seperti ini, kudu' diterima tuh, insya Allah janjinya disaksikan Allah SWT dan para malaikat. Jadi kalo suatu saat dia gak nepatin janji, tinggal didoakan, "Ya Allah... suamiku omdo nih, janjinya gak ditepatin, coba deh sekali-kali dianya...," hush...! Gak boleh doakan suami yang gak baik lho, siapa tahu ia-nya khilaf kan?

3. Kesukaan dan Yang Tidak Disukai Dari awal sebaiknya dijelasin apa yang disukai, atau apa yang kurang disukai, jadinya nanti pada saat telah menjalani kehidupan rumah tangga bisa saling memahami, karena toh udah dijelaskan dari awalnya. Dalam pelayaran bahtera rumah tangga butuh saling pengertian, contoh sederhananya, istri yang suka masakan pedas sekali-kali masaknya jangan terlalu pedas, karena suaminya kurang suka. Suami yang emang hobinya berantakin rumah (karena lama jadi bujangan), setelah menikah mungkin bisa belajar lebih rapi, dll. Semua ini menjadi lebih mudah dilakukan karena telah dijelaskan saat rafak. Namun harus diingat, menikah itu bukan untuk merubah pasangan lho, namun juga lantas bukan bersikap seolah-olah belum menikah. Perubahan sikap dan kepribadian dalam tingkat tertentu wajar aja-kan? Dan juga hendaknya perubahan yang terjadi adalah natural, tidak saling memaksa.

4. Ketakwaan Calon Pasangan Apa yang terpenting pada saat ta'aruf? Yang mestinya menduduki prioritas tertinggi adalah bagaimana nilai ketakwaan lelaki tersebut. Ketakwaan disini adalah ketaatan kepada Allah SWT lho, bukan nilai 'KETAKutan WAlimahAN' :D Karena apabila seorang lelaki senang, ia akan menghormati istrinya, dan jika ia tidak menyenanginya, ia tidak suka berbuat zalim kepadanya. Gimana dong caranya untuk melihat lelaki itu bertakwa atau tidak? Tanyakan kepada orang-orang yang dekat dengan dirinya, misalnya kerabat dekat, tetangga dekat, atau sahabatnya tentang ketaatannya menjalankan lima bab. Misalnya tentang sholat 5 waktu, puasa Ramadhan, atau pula gimana sikapnya kepada tetangga atau orang yang lebih tua, dan lain-lain. Apalagi bila lelaki itu juga rajin melakukan ibadah sunnah, wah... yang begini ini nih, 'calon suami kesayangan Allah dan mertua.'

Inget lho, ta'aruf hanyalah proses mengenal, belum ada ikatan untuk kelak pasti akan menikah, kecuali kalau sudah masuk proses yang namanya en-de. Nah kadang jadi 'penyakit' nih, karena alasan "Kan masih mau ta'aruf dulu..." lalu ta'rufnya buanyak buanget, sana-sini dita'arufin. Abis itu jadi bingung sendiri, "Yang mana ya yang mau diajak nikah, kok sana-sini ada kurangnya?"
Wah..., kalo nyari yang mulia seperti Khadijah, setaqwa Aisyah atau setabah Fatimah Az-Zahra, pertanyaannya apakah diri ini pun sesempurna Rasulullah SAW atau sesholeh Ali bin Abi Thalib r.a.? Nah lho...!!!

Apabila hukum pernikahan seorang laki-laki telah masuk kategori wajib, dan segalanya pun telah terencana dengan matang dan baik, maka ingatlah kata-kata bijak, 'jika berani menyelam ke dasar laut mengapa terus bermain di kubangan, kalau siap berperang mengapa cuma bermimpi menjadi pahlawan?'

Saudaraku...semoga segera dipertemukan dengan pasangan hidup, dikumpulkan dalam kebaikan, kebahagiaan, kemesraan, canda tawa yang tak putus-putusnya mengisi rongga kehidupan rumah tangga. Kalaupun nanti ada air mata yang menetes, semoga itu adalah air mata kebahagiaan, tanda kesyukuran kepada Allah SWT karena Ia telah memberikan pasangan hidup yang selalu bersama mengharap keridhoan-Nya,

Buat apa lemari kaca
Jika tidak diisi kain
Buat apa bermain 'cinta'
Jika tidak sampe kawin

AJKK

22/03/07

Alasan Belum mau menikah

Banyak diantara muda-mudi yg belum menikah sampai sekarang beralasan BELUM QODAR tetapi salah satu PENYEBABNYA seperti tsb dibawah ini :

1. Banyak pertimbangan
Banyak pertimbangan kadang-kadang suka jadi kendala pernikahan. Kebanyakan menimbang membikin mereka jadi tambah ragu-ragu untuk mengambil keputusan

2. Milih-milih
Kebiasaan suka milih-milih juga bisa bikin jadi kendala. Memang semua manusia pengen yg super, pinter dan kece. Tapi kalau nyatanya 'calon' biasa-biasa saja, apa lantas jadi masalah. Jangan terlalu banyak memilih doong.. Lagian belum tentu loh yg kesannya Top didepan mata, Top juga dalamnya. Yang penting Innernya.

3. Kurang Pede
Perasaan kurang pede juga bisa jadi alasan buat mereka untuk mundur dari niat semula. Kurang pede sama diri sendiri (menganggap diri kurang pantas 'bersanding' sama 'calon') Sebenarnya kalau rasa sayang kita ke dia (calon) gede banget, yakin deh rasa kurang pede itu bisa di buang jauh-jauh.

4. Takut.
Perasaan takut biasanya terjadi sama mereka yg belum pernah kawin atau pertama kali. Memang dimana-mana yg serba pertama itu agak nakutin. Nikah itu asyiiik.. lagi. Ada yg sayang sama kita, ada tempat berbagi curhat, ada yg 'care' sama kita, enak kan? Seruu.. dan Asyik...bo.

5. Pegen Lebih
Keinginan punya calon 'lebih' juga bisa jadi salah satu kendala. Buat mereka, standar cowok/cewek yg baik, paham ternyata kurang cukup. Maunya ada kelebihan lain. Entah lebih cantik, Lebih ganteng, Lebih kaya dan lebih-lebih lainnya. Dan kalau itu terjadi, bisa-bisa mereka selalu menunda-nunda kawin. Kalau mereka ngototnya yg 'lebih' belum tentu dia mau sama kita. Jangan-jangan dia juga cari yg lebih dari kita.

6. Takut Mengecewakan
Perasaan takut gagal memang suka dibayangin oleh orang yg baru berniat kawin. Siapa sih yg pengen kegagalan? Apa lagi sudah banyak kasus perceraian. Padahal itu problemnya masing-masing belum tentu hal yg sama menimpa kita. Kalau kita sudah yakin 'calon' termasuk tipe orang yg 'baik' dan 'normal' berarti nggak perlu takut.

7. Takut Nyesel
Kata orang nikah itu ibaratnya berjudi, kita nggak tahu gimana endingnya, heppy atau gagal. Karena itu alangkah baiknya mereka nggak usah terlalu ngebebanin dengan perasaan takut mendapat orang yg 'salah' selama kita heppy bersamanya dan dia nggak memanfaatin kita, itu sudah pertanda baik kalau kita tidak salah memilih.

8. Takut ada yg lebih baik
Kita memang nggak pernah tahu 'apakah dia jodoh kita atau bukan' . Takut masih ada orang lain yg lebih pas buat kita. Kita masih saja terus nyari jodoh yg tersembunyi, padahal.......ada di depan mata!.

9. Ternyata nggak Seru Lagi.
Seringkali waktu 'pdkt' dia kelihatan oke banget, gemesin banget, seru banget dan bikin kita penasaran banget. Tapi seringkali pula dengan berjalannya waktu perasaan gemes dan penasaran itu lama-lama berkurang dan akhirnya nggak tersisa lagi. Dan kelihatan dia sebagai orang yg biasa-biasa saja di mata kita. Ogah deh ketemu lagi. Yaaah..... kalo itu mah namanya pembosan. Kalo belum apa-apa kita sudah bosan pada sesuatu, jangan harap hubungan kita abadi.

10. Plin-Plan
Susah menentukan karena saking banyak yg disuka. Suka sama si A, juga sama si B, si C, D. Kebanyakan susah menentukan pilihan....
Asal dia memiliki banyak kecocokan dengan kita.... udah aja sikaat...
Eh.... tapi itu semua tetap harus di Istiqorohin lho...!!!

02/03/07

...MENIKAH TIDAK BISA DIMASUKKAN LOGIKA...!!!

Saya selalu mengatakan bahwa menikah adalah hal yang sangat kodrati. Dalam bahasa saya, menikah tidak dapat di matematiskan. Jika suatu saat ada orang yang mengatakan, "secara materi saya belum siap," saya akan selalu mengejar dengan pertanyaan yang lain, "berapa standar kelayakan materi seseorang untuk menikah?"
Tak ada..!!!. Sebenarnya tak ada. Jika kesiapan menikah diukur dengan materi, maka betapa ruginya orang-orang yang papa. Begitu juga dengan kesiapan-kesiapan lain yang bisa diteorikan seperti kesiapan emosi, intelektual, wawasan dan sebagainya. Selalu tak bisa dimatematiskan. Itulah sebabnya saya mengatakan bahwa menikah adalah sesuatu yang sangat kodrati.

Bukan dalam arti saya menyalahkan teori-teori kesiapan menikah yang telah dibahas dan dirumuskan oleh para ahli. Tentu saja semua itu perlu sebagai wacana memasuki sebuah dunia ajaib bernama keluarga..

Sebagai contoh saja, banyak pemuda berpenghasilan tinggi, namun belum juga merasa siap untuk menikah. Belum siap..lah...Belum qodar lah (belum usaha..kok bilang qodar). Lagi nyicil..lah dll. Itu alasan yang paling mudah dijumpai. Dulu, sebelum saya punya gaji, saya sangka baik pada Alloh, rejeki ada yg ngatur. Saya Harus menikah walau saya masih kuliah. Hidup saya hanya mengandalkan kiriman ortu (PNS). Saya bisa hidup pas-pasan. Bagaimana kalau nanti punya anak dan istri? Saya bahkan belum punya rumah?....Saya selalu sangka baik pada Alloh. Jaminannya....Anda sudah tahu Dalilnya khan.....Jaminan Alloh

Kalau kau menunggu gajimu cukup, maka kau tak akan pernah menikah. Bisa jadi besok Allah menghendaki gajimu naik tiga kali lipat. Tapi percayalah, pada saat yang bersamaan, tingkat kebutuhanmu juga akan naik... bahkan lebih tiga kali lipat. Saat seseorang tak memiliki banyak uang, ia tak berpikir pakaian berharga tertentu, televisi, laptop... atau mungkin hp merk mutakhir. Saat tak memiliki banyak uang, makan mungkin cukup dengan menu sederhana yang mudah ditemui di warung-warung pinggir jalan. Tapi bisakah demikian saat Anda memiliki uang? Tidak akan. Selalu saja ada keinginan yang bertambah, lajunya lebih kencang dari pertambahan kemampuan materi. Artinya, manusia tidak akan ada yang tercukupi materinya.

Menikah adalah sebuah elemen kodrati sebagaimana rezeki dan juga ajal. Tak akan salah dan terlambat sampai kepada setiap orang. Tak akan bisa dimajukan ataupun ditahan. Selalu tepat sesuai dengan apa yang telah tersurat pada awal penciptaan anak Adam.

Menikah adalah salah satu cara membuka pintu rezeki, ingat dalilnya luur...... Ada sabda Rasulullah, ”Irtamizu rizko binnikah”. ”Menikahlah maka kau akan menjadi kaya." Mungkin secara logika akan sangat sulit dibuktikan statemen-statemen tersebut. Taruhlah, pertanyaan paling rewel dari makhluk bernama manusia, "Bagaimana mungkin saya akan menjadi kaya sedangkan saya harus menanggung biaya hidup istri dan anak? Dalam beberapa hal yang berkaitan dengan interaksi sosial juga tidak bisa lagi saya sikapi dengan simpel. Contoh saja, kalau ada tetangga atau teman yang hajatan, menikah dan sebagainya, saya tentu saja tidak bisa lagi menutup mata dan menyikapinya dengan konsep-konsep idealis. Saya harus kompromi dengan tradisi; hadir, nyumbang... yang ini berarti menambah besar pos pengeluaran. Semua itu tak perlu menjadi beban saya pada saat saya belum berkeluarga."

Saat saya dihadapkan pertanyaan 'menikah' pertama kali dalam hidup saya, saya sempat maju mundur dan gamang dengan wacana-wacana semacam ini. Lama sekali saya menemukan keyakinan -–belum jawaban, apalagi bukti–- bahwa seorang saya hanyalah menjadi perantara Allah memberi rezeki kepada makhluk-Nya yang ditakdirkan menjadi istri atau anak-anak saya.

Harusnya memang demikian. Itulah keajaiban yang kesekian dari sebuah pernikahan. Saya sendiri menikah pada tahun 1990, saat umur saya dua puluh tiga tahun. Saat itu saya masih Ko-as/Mhs di FKH IPB Bogor.

Dengarkan...! Dengarkan baik-baik bagian cerita saya ini.
Beberapa hari setelah saya menikah, istri saya langsung diterima bekerja. Beberapa bulan berikutnya urusan skripsi, praktek lapang saya berjalan dengan lancar...mulus... tapa hambatan. . Interval sejak KUA sampai saya benar-benar dapat pekerjaan +/- satu tahun. Padahal, saya ditempatkan di Bandung....bayangkan baru manten anyar sudah hidup terpisah.. Dilalah... saya hanya 9 bulan di Bandung kemudian saya di dekatlagi oleh Alloh, pindah ke Jakarta lagi. Saat anak lahir, saya masih menempati rumah kontrakan, lagi-lagi ada keajaiban, walau saya belum bisa bayar kontrakan, diberi keringanan oleh si empunya, boleh bayar belakangan. Miracle berikutnya...! Subhanallah...! Saya bisa mengambil rumah BTN di sawangan, saya semakin yakin bahwa saya hanyalah perantara rezeki bagi anak dan istri saya... juga –mungkin –orang lain. Kemudian kami bertekad untuk menabung, sampai bisa berangkat haji. Alhamdulillah bisa berangkat dengan biaya murah Rp. 7.5 juta tahun 1997 walau dengan cara jual mobil, pinjam ortu dll

”Barangsiapa yg tawakkal pada Alloh maka DIA akan mencukupinya, barang siapa yg tawakkal pada Alloh dengan sehaq-haqnya tawakkal, maka Alloh akan memberi dia rezki sebagaimana Alloh memberi rezki pada burung pagi-pagi lapar dia dan sorenya sudah kenyang....”

perkawinan-bahagia.blogspot.com

23/02/07

...Milailah Sekarang...Lakukan saja...!!!

Banyak orang mati dengan bakat terpendam dalam diri mereka.

Mengapa begitu??

Terlalu sering penyebabnya kerena yang mereka lakukan hanyalah mempersiapkan diri untuk hidup. Dan tanpa mereka sadari waktu sudah habis (Oliver Wendell Holmes)

...Just Do It...!!!

Sebagian orang menghabiskan seluruh kehidupan mereka dengan menunggu datangnya waktu yang sempurna untuk melakukan sesuatu.

Di dunia ini jarang ada waktu yang "tepat" dalam hal apapun.

Yang penting adalah langsung memulai. Ikuti permainan. Masuk ke lapangan bermain.

Begitu melakukannya, Anda akan mulai memperoleh umpan balik yang akan membantu Anda melakukan perbaikan yang Anda perlukan untuk menjadi sukses.

Begitu Anda bertindak, Anda akan mulai belajar dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi