Translate

Jumat, 31 Oktober 2014

Saling Memaafkan

Rasulullah SAW bersabda, Apabila seorang lelaki mengajak istrinya ke tempat tidurnya (untuk berhubungan) lalu ia tidak mendatanginya, kemudian suaminya marah kepadanya, niscaya ia dilaknat oleh para malaikat hingga waktu pagi.” (Rowahu al-Bukhory)

Rasulullah SAW bersabda, “Demi Dzat yang diriku ada di TanganNya, tidaklah seorang lelaki memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu ia menolak, melainkan yang ada di langit murka terhadapnya hingga suaminya rela kepadanya.”


Bagaimana kalau ditolak tapi tidak marah?

pola komunikasi yang baik antara suami dan istri, sebagai praktik wa ‘aasyiruuhunna bilma’ruf.


 Saling memaafkan

Jika sudah ada komunikasi sebelumnya, layaknya sebuah komitmen, tentu akan ringan bagi keduanya. Istri tidak merasa berdosa dan suami tidak naik darah. Dalil yang seram pun menjadi begitu indah kala tahu hak dan kewajibannya
.

Rabu, 29 Oktober 2014

Falsafah Pernikahan

Teman saya yang belum menikah pernah berkata, "Saya takut menikah karena belum tentu sanggup menjadi suami yang baik".

Trus ada lagi teman saya yang lain, yang sudah nikah mengatakan, "Menikah itu enaknya cuma 10 persen, yang 90 persen uweeenak bangettt..."
Hmmmm...

Kedua pendapat diatas sama benarnya, sebab masing-masing punya sudut pandang berbeda.

Bagi yang sudah pada nikah kebanyakan berpendapat bahwa menikah itu indah... menyenangkan... dan menenteramkan jiwa.

Lalu,bagi yang belum nikah, mereka kerap dihantui kekhawatiran bahwa menikah itu sesuatu yang menakutkan, berat, penuh tantangan dan butuh biaya besar.

Mereka yang berpendapat seperti itu ya jangan disalahkan, karena mereka sendiri belum menjalaninya...iya to...

Terlepas dari perbedaan diatas, pernikahan memang suatu hal yang harus DISEGERAKAN.
Bahkan Rasulullah SAW dengan tegas mengultimatum agar laki-laki yang udah sanggup menikah untuk segera melaksanakannya (hadits riwayat Ahmad).

Pernikahan bukan hanya bertujuan untuk menghindarkan diri dari kancah maksiat, tetapi juga sebagai sarana dakwah sosial atau amar ma’ruf.

Ketika menikahi seorang wanita - untuk yang pertama kali, kedua, ketiga, atau keempat - seorang laki-laki telah memutar roda dakwah dengan mengeluarkannya dari image buruk.

Pernikahan insya Allah akan dapat diwujudkan jika dalam diri seseorang mengemuka empat faktor yang disebut-sebut sebagai "Falsafah Pernikahan". Keempat hal itu meliputi : niat, tekat, nekat dan dokat (bahasa prokem = duit).

Pertama, NIAT. Niat merupakan kuncinya ibadah. Baik buruknya hasil suatu pekerjaan sangat tergantung pada niatnya, demikian dikatakan Rasulullah SAW dalam hadits riwayat Nasa’i.

Niatlah yang awalnya menggerakkan kita untuk mengerjakan sesuatu. Niat yang disertai dengan komitmen dan tanggung jawab.

Sesiap apapun tapi belum berani berkomitmen dan bertanggung jawab, niat untuk menikah akan kembali mentah seperti semula.

Takut berkomitmen dan punya tanggung jawab membuat sebagian orang enggan menikah pada saat yang sudah seharusnya.

Karena itu, pernikahan hendaknya didahului oleh niat semata-mata mengharap ridho Allah untuk membentuk rumah tangga idaman, harmonis dan romantis, sakinah mawaddah wa rahmah.

Dengan niat yang ikhlas (tidak hanya mengedepankan dorongan nafsu), insya Allah pernikahan akan membawa rahmat yang menyuguhkan ketenteraman tiada tara.

Kedua,TEKAT. Niat saja belum cukup bila tidak dibarengi dengan tekat. Tekat merupakan kesungguh-sungguhan untuk melaksanakan niat dimaksud.

Tekat mendorong seseorang untuk mencapai kehendak hatinya, meskipun dalam pelaksanaannya berhadapan dengan berbagai tantangan.

Kalau seseorang telah bertekat menikah, sebenarnya
tidak ada lagi alasan yang bisa menghalanginya.

Tetapi kenyataan yang selama ini terjadi, yang telah menjadi fenomena di kalangan bujangan adalah keragu-raguan, pikir yang terlalu panjang dan kecemasan prematur yang sengaja ditumbuhkembangkan.

Akibatnya tekat yang seharusnya menjadi motor malah kalah duluan.

Ketiga, NEKAT. Supaya tekat dapat diwujudkan menjadi sesuatu yang nyata, maka perlu kenekatan.

Islam insya Allah tidak akan menyebar jika tidak ada kenekatan Rasulullah SAW dan pengikut-pengikutnya untuk mendakwahkannya di tengah-tengah kaum kafir Qurais jahiliyah.

Republik ini pun insya Allah tidak akan merdeka jika tidak ada kenekatan para pejuang melawan moncong senapan Belanda dengan bambu runcing.

Begitu pula, kita yang hidup hari ini pasti tidak akan ada jika saja ibu dan bapak kita dulu tidak nekat untuk menikah.

Itulah sekedar contoh. Ternyata nekat itu membawa pengaruh yang signifikan bagi perubahan.

Tentu saja dalam konteks ini adalah nekat yang masih dalam koridor syariat. Nekat yang penuh perhitungan. Bukan nekat-nekatan.

Karena itu, agaknya pernikahan akan terlaksana kalau calon pengantinnya (terutama yang laki-laki) memiliki kenekatan spiritualitas demi menjaga diri dari maksiat dan "menyelamatkan" saudara-saudara perempuan kita yang "menunggu".

Keempat, DOKAT (duit). Pernikahan lazimnya membutuhkan biaya. Untuk itu ketiga hal diatas perlu ditopang dengan yang keempat ini.

Setidaknya untuk mas kawin dan biaya pernikahannya. Terlalu naif rasanya bila biaya ini dihutang walaupun dihalalkan.

Nah, ketika bicara tentang uang ini, janganlah pikiran kita membayangkan bahwa pernikahan itu mahal. Butuh biaya besar.

Bahkan ada beberapa teman yang mengatakan, "Nikahnya sih gampang, ‘iuran’ bulanannya yang berat" atau "amma ba'du-nya itu lho...."

Ya ndak gitu laah... Ingat kisah sahabat Rasulullah yang bisa menikah hanya dengan mas kawin hafalan surat Al Ikhlas. Selain itu coba "nderes" kembali firman Allah dalam Al Qur’an :

"Dan tidak ada suatu makhluk pun di muka bumi melainkan Allah-lah yang memberikan rezekinya.." Surat Hud ayat 6.

"Dan menikahlah dengan orang-orang yang sendirian (bujang) diantara kalian, dan orang-orang yang sholih dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki, dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan mencukupi mereka dengan kefadholan Allah.." Surat Annur ayat 32.

Dan hadits Rasulullah :
"Ada tiga golongan yang pasti mendapatkan pertolongan Allah : pertama, orang yang membela agama agama Allah, kedua, orang yang menikah dengan niat menjaga agamanya, ketiga, budak mukatab yang ingin menebus dirinya agar merdeka dengan cara mengangsur" Hadits Riwayat Nasa’i juz 6

"Mencarilah rizqi dengan (melalui) pernikahan" Hadits Riwayat Dailami dalam musnad Firdaus.

Jelas sudah.. hayoo... siapa yang masih meragukan dalil-dalil diatas...

Beberapa ulama kita menjelaskan dengan doktrinnya "yang membagi rezeki itu Allah, tidak usah memikirkan
pekerjaan Allah itu, malah pusing sendiri... harus yakin dengan dalil"

Besar kecilnya biaya pernikahan itu tergantung bagaimana kita bisa menyiasatinya.

Artinya, pernikahan akan menjadi berat kalau dipandang sebagai beban dan akan menakutkan kalau dikaji-kaji rekapitulasi biayanya, apalagi bagi yang belum punya penghasilan tetap.

Jadi, persepsikanlah pernikahan sebagai ibadah yang menyenangkan.

Siapa yang masih ingat lirik lagu Doel Sumbang yang ngetop di era 90an :

Jangan berkata tidak bila kau jatuh cinta
Terus terang sajalah buat apa berdusta
Cinta itu anugerah maka berbahagialah
Sebab kita sengsara bila tak punya cinta

Rintangan pasti datang menghadang
Cobaan pasti datang menghujam
Namun yakinlah bahwa cinta itu kan membuatmu
Mengerti akan arti kehidupan

Marilah sayang.. Mari sirami
Cinta yang tumbuh di dalam diri
Marilah sayang.. Mari sirami
Agar merekah sepanjang hari

Sobat... ada pihak yang tidak setuju bahkan sangat menentang pernikahan dan menjunjung tinggi perzinahan...!
Menentang poligami dan melegalkan perselingkuhan...! MasyaAllah...!!!
Siapa lagi kalo bukan Iblis Laknatullah, musuh besar manusia...!

Pernikahan dapat mengguncang seluruh kerajaan Iblis dengan kekuatan lebih 25 skala richter...., sampai mereka berteriak "Celaka..!!! anak cucu Adam telah terjaga dua pertiga agamanya dari godaanku…!!!"

Pernikahan menjadi bencana besar bagi Iblis... Maka sudah semestinya jika Iblis berjuang mati-matian untuk menghalangi manusia agar tidak segera menikah, mengelabui pikiran manusia dengan bayangan-bayangan menakutkan, perhitungan-perhitungan yang "njlimet" sehingga manusia enggan untuk menikah.

Bulatkan tekat, BISMILLAH... saya akan menikah demi menjaga agama saya, Allah pasti menolong...
Sholat hajat dan istikharah, minta petunjuk kepada Allah agar menemukan jodoh yang barokah...

Memang jodoh itu kodar. Maka berdoalah dan berusaha…
Jangan hanya pasrah pada Lembaga Kodar... ehm...

Semoga Allah paring Barokah

Ustad Dave Arian Yusuf

Sabtu, 11 Oktober 2014

Zona Aman dan Tenang

Jika Anda mendapatkan rumah sebagai tempat tinggal,  Anda Beruntung.
Jika Anda mendapatkan sesuatu yang bisa menopang hidup Anda,  Anda Cerdik.
Jika Anda mendapatkan pasangan hidup dengan saling mencintai,  Anda Bahagia

Jika Anda memiliki semua itu, Berarti Anda orang yang paling Kaya .!


Barokallohulakuma buat Malita Siti Rachmawati dan Miftachul Royan

Senin, 22 September 2014

Menunda Menikah...Beresiko!

Seorang Ayah menasehati anak perempuannya yang masih saja belum mau menikah..padahal usianya sudah 30

Ayah: Nduk....ini ada seorang lelaki pilihan ....melamar kamu..Bagaimana pendapatmu?
Anak Pr: Saya pengen nyelesaikan pendidikan S2 saya yah..
Ayah: Ingat usiamu Nduk...Orang wanita kalau sudah 35 th sangat berisiko saat melahirkan..!
Anak Pr: Iya yaah...Tapi siapa dia yah...Apa Ayah meridhoi saya menikah dengannya?
Ayah: Ayahmu ini sangat Ridho nduk...Mas ini orangnya faham dan sudah mapan hidupnya.
Anak Pr: ..............(diam) 
Ayah: Alhamdulillaaaah....Ayah seneng kamu diam...Mudah2an dengan diammu ini ...kamu tidak menolak permintaan Ayah yaa.
Ayah: Ayah ingin kamu tidak sendirian lagi...Ayah ingin kamu bersanding dengan Suamimu....jembatan sorgamu...Ayah juga senang bhaktimu pada Ayahmu ini segera berakhir  dan  ketho'atanmu hanya untuk suamimu.


"Jika datang kepadamu seorang pria yang meminangmu dan kamu senangi agama dan akhlaqnya, maka terimalah.  Kalau tidak, bisa terjadi fitnah diatas bumi dan kerusakan yang besar." (HR. Tirmidzi)

Minggu, 31 Agustus 2014

Pilihlah Yg Baik Agama dan Akhlaqnya

"Perempuan itu di nikah atas empat perkara, yaitu: karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, atau karena agamanya.  Akan tetapi, pilihlah berdasarkan agamanya agar dirimu selamat" (H.R.Bukhori dan Muslim)

Dari hadits diatas Alloh dan Rasulnya memberikan petunjuk dengan memilih yang baik agamanya (dalam hal ini adalah paham agamanya dengan benar dan istiqomah dalam mengamalkannya).

Hal ini juga berlaku bagi wanita apabila memilih seorang pria, bahkan ada tambahan dengan penegasan dari sebuah Hadits:

"Kalau datang kepadamu seorang pria yg meminang yang kau senangi agama dan akhlaqnya, maka terimalah.  Kalau tidak, bisa terjadi fitnah diatas bumi dan kerusakan yang besar" (H.R Tirmidzi)

Dari hadits diatas dijelaskan bahwa apabila ada seorang laki-laki yg engkau senangi dan baik AGAMA dan AKHLAQnya maka diperintahkan untuk dipilih.

Kenapa kok dikatakan agama dan akhlaqnya.? Kenapa kok bukan agamanya saja atau akhlaqnya saja?

Karena apabila baik agamanya tetapi akhlaqnya tidak baik akan timbul kerusakan, dan begitu pula apabila akhlaqnya baik tetapi agamanya tidak baik maka akan timbul kesesatan.